beranda.net>Artikel>apakah uang bisa membeli kebahagiaan

Apakah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?

(Diterjemahkan dari sebuah artikel  pada buku Environmental and Natural Resource Economics karangan Tom Tietenberg; hal 543).

Dalam sebuah studi yang sangat subyektif tapi menarik, ekonomis Richard Easterlin mengumpulkan data dari 30 survei yang dilakukan di 19 negara maju dan belum maju, yang menganalisa hubungan antara kebahagiaan dengan “income”. Dalam tiap survei, responden mendapat pertanyaan dan memberi jawaban tentang seberapa bahagia hidup mereka, dengan menggunakan skalasangat bahagia”, “cukup bahagia”, ‘cukup tidak bahagiadansangat tidak bahagia”. Informasi mengenai tingkat pendapatan (“income”) responden juga dikumpulkan.

Dalam menganalisis data diatas, ia mendapatkan bahwa:

  1. Ada saat dimana sebagian besar orang dengan tingkat-pendapatan-tinggi lebih bahagia dari orang dengan tingkat-pendapatan-rendah, di semua negara dan dari tahun ke tahun.
  2. Proporsi dari orang yang bahagia dan tidak-bahagia dalam tiap grup tetap konstan sepanjang waktu, walaupun terjadi peningkatan pendapatan. Contohnya, di United States, kira-kira prosentasenya sama antara orang kaya dan orang miskin yang menyatakan bahwa mereka bahagia di tahun 1940 dan 1970.

Temuan pertama menyatakan bahwa tingkat pendapatan yang lebih tinggi mempunyai korelasi positif dengan kebahagiaan, sedangkan temuan kedua menyatakan walaupun terjadi kenaikan pendapatan, prosentase yang menyatakan bahwa mereka bahagia tidak meningkat. Bagaimana temuan yang kontradiktif bisa dijelaskan?

Easterlin menjelaskan temuan tersebut dengan mengajukan pendapat bahwa salah satu komponen dari kebahagiaan adalah “relative income“.

Jadi, orang yang pendapatannya berada di tingkat atas di suatu negara, bisa menjadi kurang bahagia jika dengan pendapatan yang sama ia hidup di negara lain yang pendapatannya rata-rata jauh diatas pendapatan orang tersebut.

Jika hipotesis ini benar, maka tingkat rata-rata kesejahteraan dalam ekonomi bukan indikator yang tepat untuk  menunjukkan tingkat kesejahteraan sosial dalam suatu masyarakat. Distribusi dari hasil pertumbuhan ekonomi-lah yang membuat perbedaan.

Sumber: Richard A. Easterlin, “Does Money Buy Happiness,” The Public Interest (Winter 1973): 3-10.