beranda.net logo

beranda > artikel > review: batas nalar

Judul asli: Within Reason: Rationality and Human Behavior

Pengarang: Donald B. Calne

Penerjemah: Parakitri T. Simbolon

Review

Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia

D. Manggala (16 Maret 2005)

Manusia tidak pernah berbuat jahat sesempurna yang mereka perbuat karena keyakinan agama - Blaise Pascal

(dikutip dari Batas Nalar hal.242)

 

Saya membeli buku ini lebih karena keingintahuan setelah membaca dari Kompas tentang seminar "Batas Nalar dalam Kemelut Indonesia dan Jalan Keluarnya" yang diadakan tanggal 23 Februari 2005 lalu. Ini membuat saya tercengang sendiri karena ternyata marketing dengan progresif di berbagai channel memang sangat perlu, karena memang bisa mendorong orang membeli suatu produk seperti buku!

Nah, sebelum menulis review buku ini saya sempatkan dulu untuk melakukan sedikit 'riset' lewat Google untuk mengetahui bagaimana tanggapan pembaca atas buku aslinya, Within Reason, di Amerika Serikat dan Kanada (penulis adalah seorang ahli saraf/neurolog dari Kanada) terutama dari para pakar atau orang yang berkecimpung di dunia psikologi atau filsafat ataupun neurolog.

Kesimpulan sementara dari hasil riset kecil-kecilan:

1. Buku ini tidak terlalu mendapat tanggapan luas dari publik disana karena hanya ada sedikit sekali review atas buku ini, itupun dengan penilaian yang sedang saja.

2. Pertama terbit di tahun 1999 tapi versi Indonesia-nya baru diterjemahkan di 2004, artinya versi Indonesia ini baru keluar setelah 5 tahun buku aslinya diterbitkan. Apakah baru belakangan ini ada yang membaca dan menganggap buku ini relevan untuk negara kita?

3. Sebagian besar tanggapan/review menyatakan bahwa topik/thesis yang diajukan oleh Donal Calne bukanlah hal yang baru, bahkan dianggapa sedikit ketinggalan jaman sekitar 40 sampai 50 tahun. Review yang saya sukai dan saya anggap kredibel dan cukup netral (berdasarkan ketidaktahuan saya atas dunia ini) adalah dari Carlin Romano, seorang Fulbright Scholar, yang menulis reviewnya disini.

4. Gambar sampulnya berbeda antara versi Bahasa Inggris dan Indonesia (Apakah ini penting? hehehe).

Sekali lagi, kebutaan saya atas topik yang dibahas mungkin akan membuat review ini menjadi bias karena saya telah membaca review lain atas buku versi Bahasa Inggris-nya. Tapi, mari kita mulai saja...!

Thesis yang diajukan oleh Calne adalah bahwa nalar manusia adalah netral. Seperti ditulis dalam keterangan dalam sampul belakang bukunya bahwa "Nalar hanyalah piranti semata, sehingga tidak berdasar bila dianggap bermuatan moral."

Artinya, sesuai dengan thesis diatas, manusia baik atau jahat tidak ditentukan oleh nalarnya; karena nalar hanya alat atau piranti (tool) yang bisa digunakan sesuai keinginan manusia sendiri. Seperti pisau yang bisa digunakan untuk memotong sayur atau malah untuk menodong orang, begitu juga nalar bisa digunakan untuk tujuan mulia atau tujuan jahat.

Kemungkinan besar para psikolog atau mahasiswa psikologi dan para penggelut ilmu sosial maupun filsafat tidak banyak yang kaget dengan thesis diatas. Sungguhpun demikian, Calne mencoba menjelaskan thesisnya itu dari berbagai sudut pandang dari bahasa ke etika ke pemerintah ke agama ke sains sampai seni. Ada banyak contoh dari dunia neurologi maupun kutipan dari berbagai buku yang mendukung buku ini.

Untuk membuat review ini singkat, ini adalah hal-hal yang saya sukai dan yang tidak saya sukai dari buku ini..

Yang saya sukai dari buku ini:

1. Bisa jadi referensi: walaupun dianggap bukan sesuatu yang baru di kalangan ahlinya, saya sendiri menganggap buku ini bisa dijadikan referensi atas beberapa hal seperti hubungan antara perilaku manusia dengan kerja otak/saraf dan perkembangan diskusi menganai perilaku manusia dari sisi historis. Singkatnya, ini buku yang bisa dibuka-buka lagi jika kita menemukan atau terlibat diskusi tentanf apa yang mempengaruhi rationalitas dan perilaku manusia.

2. Mencantumkan endnote di tiap bab; bukan hanya sangat membantu pembaca tapi juga membuat buku ini terlihat sangat kredibel.

3. Kelihatan didukung dengan riset dan referensi yang cukup luas, bukan hanya dari sisi neurologi tapi juga dari sisi filsafat dan sejarah.

4. Relevansi yang sangat besar dengan kehidupan di Indonesia adalah dalam hal pengaruh nalar dalam agama yakni di Bab 8 (Nalar Bela Agama) dan Bab 9 (Nalar Lawan Agama).

5. Bisa menjelaskan sesuatu yang saya sulit pahami sebelumnya seperti hubungan antara bahasa dengan perilaku manusia, seperti dijelaskan dalam Bab 3 (Bahasa dan Wicara) juga dalam menjelaskan makna "Aku Berpikir, maka Aku Ada" dari Descartes; kutipan yang saya sudah sering dengar tapi baru di buku ini sedikit mulai mengerti maknanya (garis bawah pada kata sedikit).

Yang tidak saya sukai:

1. Ada beberapa terjemahan dalam Bahasa Indonesia yang malah membuat saya tidak mengerti (atau ini tanda saya termasuk orang Indonesia yang kurang mengenal bahasanya sendiri?). Contohnya: penggunaan istilah "reaksi bernyali" untuk menggantikan gut reaction, "emosi berkelindan" (apa artinya ya?), "pasangan basa" untuk istilah base pairs dalam DNA (apakah tidak lebih umum menggunakan "pasangan dasar" karena base disini menurut saya bukan dalam konteks lawan dari acid? Atau saya yang salah?), dan beberapa kata lainnya. Namun, secara keseluruhan saya cukup salut juga dengan Parakitri sebagai penerjemahnya karena ini tentunya buku yang "berat" yang memerlukan orang yang tidak hanya menguasai dua bahasa tapi juga mengerti bidang yang dibahas.

2. Tidak ada topik diskusi mendasar tentang bagaimana perbedaan antara "nalar yang netral" dengan moral atau hasrat yang bisa mempengaruhi manusia berbuat baik atau jahat. Bagaimana pengaruh kerja otak atau perkembangan evolusi dan sejarah manusia terhadap moral dan hasrat? Meminjam contoh yang diajukan oleh Calne sendiri, saya masih penasaran dengan analisanya atas tindakan Hitler dan Nazi; pertanyaan saya "jadi apa yang menyebabkan Hitler dan Nazi berbuat sedemikan kejam?"

Dari review diatas, saya jadi bertanya-tanya tentang hasil dari seminar yang diadakan Kompas, Institut Darma Mahardika, dan Kementrian Negara Riset dan Teknologi tentang "batas nalar" dan hubungannya dengan kemelut di Indonesia; kira-kira dari hasil diskusi dalam seminar apakah dihasilkan sesuatu yang bisa menjelaskan "Kenapa Indonesia terpuruk? Apakah karena kemunduran nalar atau kehancuran moral?", "Apa yang menyebabkan keterpurukan secara nasional?" dan yang paling penting, "Bagaimana kita mengatasinya? Bagaimana kita bisa bangkit?"

Nah, adakah diantara pembaca yang bisa membantu saya? Silahkan email ke d_manggala@yahoo.com atau dengan membuat komentar di forum beranda.net.

ps. Saya menemukan sebuah kutipan panjang dalam Batas Nalar yang menurut saya layak direnungkan oleh banyak dari kita (terutama saya sendiri). Kutipan tersebut berasal dari Aldous Huxley:

"Manusia begitu cerdas sehingga harus merekayasa teori-teori untuk menjelaskan apa yang terjadi di dunia ini. Sayang, dalam banyak hal manusia tidak cukup cerdas menemukan penjelasan yang benar. Maka, ketika bertindak berdasarkan teori-teori itu, manusia sering berperilaku seperti orang gila. Jadi, binatang tidak cukup cerdas menghayal bahwa hujan dicegah turun oleh roh-roh jahat atau hujan dimaksudkan sebagai hukuman, bila kemarau panjang menerpa. Itulah sebabnya Anda tidak pernah melihat binatang bersibuk-sibuk dengan ketololan buta dan sering mengerikan berupa sihir dan agama. Tak ada kuda, misalnya, akan membunuh anaknya untuk mengubah arah angin. Anjing tidak melakukan upacara kencing dengan harapan untuk membujuk dewa kencing sehingga hujan turun. Keledai tidak merengek seperti orang merapal ayat sambil tengadah ke langit biru. Juga tiada kucing berpantang daging untuk mengecoh roh jahat agar berperilaku baik. Hanya manusia yang berperilaku bodoh dan serampangan seperti itu."

(Dikutip dari Batas Nalar, hal. 243)