| Dari
Kompas online saya menemukan tulisan Faisal Basri berjudul
Bergerak Maju Setelah Kenaikan Harga BBM
yang saya tampilkan lagi disini;
sebuah tulisan yang menurut saya sangat bernuansa problem
solving daripada problem whining.Mudah-mudahan
Kompas tidak keberatan tulisan itu dimuat lagi disini, untuk
itu saya tetap cantumkan URL aslinya.
BBM: Naik atau Tidak Naik, that is NOT
the Question
D. Manggala (5 Maret 2005)
So, what is the question?
Pertanyaannya adalah bagaimana kita menyikapi hal ini agar
jadi suatu wacana yang produktif.
Setiap kebijakan politik (apalagi BBM) pasti merupakan suatu
dilema; buah simalakama; ada pro, ada kontra; ada plus, ada
minusnya.
Kalau dua hal yang berseberangan, berada di dua kutub yang
berbeda, dibicarakan dengan semangat yang positif pasti hasilnya
akan produktif. Kalau tidak salah, ini yang namanya dialektika.
Misalnya, sejarah panjang ilmu pengetahuan dimulai dari dua
kutub yang bertentangan. Satu pihak mengatakan bahwa materi
terdiri dari bagian terkecil yang tak dapat dibagi (yang disebut
atom), pihak yang berseberangan mengatakan materi terdiri
dari bagian yang kalau dibagi tidak akan habis-habis, alias
selalu bisa dibagi sampai infinity. Demikian kedua
pihak ini berpolemik dan berbantahan tak habis-habisnya...the
rest is history. Kalau kita mau bercermin, pertentangan
seperti itu kalau dijaga menjadi rantai tesis vs.
anti tesis = sintesis, maka hasilnya adalah apa yang
kita nikmati sekarang; ada laptop, ipod, friendster, dan blog
(Hi
Roy! ™).
Maka dalam semangat yang sama, mari kita lihat persoalan
harga BBM ini dari dua sisi faktual:
Faktor yang mendukung kenaikan BBM:
1. Harga minyak mentah dunia sedang membumbung tinggi, melewati
US$ 50/barrel; ini harga yang bukan hanya menendang Indonesia
tapi semua negara manapun yang butuh BBM terutama yang termasuk
net oil importer. Dengan harga $45 barel/barel, subsidi
BBM per bulan adalah 2 Triliun rupiah per bulan. Singkatnya,
bandar tekor (Referensi: Majalah Tempo, tanggal 6 Maret 2005).
2. Indonesia sudah menjadi net oil importer. Produksi
rata-rata Indonesia hanya maksimum 1 juta barel per hari,
sedangkan tingkat konsumsi mencapai 1,1 juta barel per hari.(Referensi:
Majalah Tempo, tanggal 6 Maret 2005). Untuk ulasan agak panjang
tentang situasi perminyakan Indonesia dibandingkan dengan
Arab Saudi, AS, dan China klik
disini.
3. Secara nasional kesadaran kita untuk hemat bahan bakar
rendah sekali. Contohnya? Ya, orang malah berbondong-bondng
beli mobil boros semacam SUV.
4. Kenaikan harga BBM sudah direncanakan sejak masa Pemerintahan
Ibu Mega, jadi kemungkinan besar siapapun presidennya minumannya
tetap Teh Sosro (lho?). Maksudnya, siapapun pemimpinnya jika
dihadapkan kondisi seperti ini pasti menghadapi dilema yang
sama.
5. Menurut Muhammad Chatib Basri, Direktur Riset LPEM FEUI,
mempertahankan subsidi BBM sama dengan "membela kelas
menegah atau penyelundup BBM." (Ada di Majalah Tempo,
tanggal 6 Maret 2005 halaman 123).
Nah, sekarang giliran faktor yang tidak mendukung
kenaikan BBM:
1. Situasi sedang prihatin: krisis moneter aja belum lewat-lewat,
belum lagi deretan bencana alam. Singkatnya, masyarakat Indonesia
sudah menderita dan babak belur tanpa ada kenaikan harga BBM.
Apa ngga bisa ditunda dulu bentar lagi, misalnya taun depan
pas situasi agak mendingan?
2. Kalau harga yang naik cuma BBM aja sih masih bisalah rakyat
yang hidup pas-pasan bernapas sedikit (lha wong ngga punya
mobil, ga usah beli bensin). Tapi, yang berat kan ongkos transportasi
jadi naik; kalau udah yang satu ini naik semua harga juga
naik....seperti bola salju yang menindih rakyat kecil. Padahal
sudah bisa dipastikan pendapatan bakal segitu-segitu aja...ya
bisa dibayangkan lah betapa beratnya hidup... Biasanya kalo
terjadi hal sepert ini, pemerintah kurang sigap.
3. Proses sosialisasi kepada masyarakat belum tuntas, malah
ada kesan kalau bisa masyarakat ngga usah dilibatkan. Paling
tidak dengan DPR diskusinya agak lama dikit dan lebih komprehensif
lah (yah walaupun kita sadar pola pikir anggota DPR juga banyak
yang lebih konsentrasi ke usaha jegal menjegal antar partai
daripada fokus ke topik utama untuk mensejahterakan rakyat).
Tapi paling tidak ada suasana kerjasama eksekutif & legislatif
dalam mengambil kebijakan penting seperti ini.
4. Apa ngga sebaiknya biaya talangan subsidi didapatkan dari
mengumpulkan duit yang dikorupsi secara kompak oleh pejabat,
wakil rakyat, dan para pengusaha? Apa tidak ada usaha lain
seperti mengefisienkan kinerja industri perminyakan termasuk
Pertamina? Kalau ini didahulukan kan lumayan....
5. Apa bener nanti uang subsidinya sampai ke yang membutuhkan?
Jangan-jangan jadi "lahan baru" buat diembat...
Jadi seperti kita lihat, memang bikin keputusan buat rakyat
ngga mudah. Dua sisi diatas sama benarnya, itulah sebabnya
jadi pejabat negara memang harus siap melayani rakyat, bukan
siap "memerintah". Tugas sebagai pejabat negara
itu amanah jadi memang resikonya capek, harus kerja keras
tapi tetap dicaci maki orang. Tapi kalau yang memegang amanah
bisa tetap teguh menjalankan tugas tanpa banyak melenceng
kekiri-kekanan, alias tetap lurus di jalan yang benar, maka
itulah kesempatan ia dicintai oleh rakyat; mungkin resikonya
bakal jadi pejabat miskin. Pilih mana, jadi orang kaya seperti
kebanyakan mantan pejabat sekarang...atau miskin dicintai
dan dikenang masyarakat Indonesis seperti beberapa mantan
pejabat yang lurus? :)
Buat pemerintah mungkin pekerjaan rumah yang penting sekarang
ini setelah harga sudah dinaikkan adalah:
1. Menjamin bantuan kepada rakyat miskin sampai ke sasaran.
2. Memperbaiki sistem perundangan untuk investasi baru di
industri hulu perminyakan; agar produksi bisa bertambah dari
yang sekarang sudah menurun terus.
3. Konsisten menegakkan hukum, termasuk menangkap koruptor.
Tangkap dan penjarakan juga pembunuh Munir. Juga cukong-cukong
yang ngebabat hutan atau membakarnya; terakhir hukum orang-orang
"gede" yang suka dar der dor menghilangkan nyawa
orang. Kalau ini bisa dilakukan, pasti "dosa" menaikkan
harga BBM dimaafin oleh kebanyakan rakyat (dengan perkecualian
mungkin ngga dimaafin oleh mahasiswa, karena tugas mereka
memang harus kritis terus, mumpung belum terpolusi pikirannya).
Nah mumpung inget, pendapat pribadi saya (rakyat biasa) bagi
teman-teman mahasiswa yang sedang rajin demo, sebaiknya mulai
meninggalkan cara-cara berikut dalam demonstrasi: membakar
ban/benda lain (karena kemungkinan perlu BBM serta pasti menimbulkan
polusi), memblokir jalan raya, maupun membajak mobil tangki
BBM. That is so not cool, dudes!
Malah, mungkin untuk sementara waktu cara-cara demonstrasi
sebaiknya ditinggalkan dulu karena sekarang nilainya sudah
menurun. Demonstrasi menjadi suatu cara yang menarik, heroik,
dan bernilai tinggi, ketika dilakukan tidak secara rutin dan
mempunyai pesan yang luar biasa kuat (seperti waktu menjatuhkan
Pak Harto). Sekarang ini demonstrasi sudah jadi pasaran banget,
bukan hanya mahasiswa yang demo tapi juga pendukung koruptor,
preman, orang bayaran, dll...yang akhirnya mengurangi arti
sebuah tindakan yang bernama "demo". Intinya, mahasiswa
mungkin mesti cari cara baru untuk melanjutkan perjuangan...perlu
diferensiasi biar ngga sama dengan orang-orang yang dapet
ceban gitu loh... Bagaimanapun idealisme mahasiswa
pasti masih dihargai dan diperlukan oleh bangsa ini.
Akhir kata, masalah naik atau tidak naik harga BBM ngga akan
habis-habis kalau cuma dijadikan bahan cela-mencela atau hujat-menghujat.
Akan lebih produktif kalau dari dua kutub yang berlawanan
itu dicari alternatif terbaik dari pilihan-pilihan buruk yang
kita punya.
Synthesis, that is.
|