beranda.net logo

beranda > artikel > subsidi BBM dan the new equation

 

Subsidi BBM dan "the New Equation" di Dunia Perminyakan

D. Manggala (1 Mei 2005)

Chairman/CEO dari ChevronTexaco yang bernama Dave O'Reilly menulis komentar menarik tentang kondisi perminyakan dewasa ini dalam suatu artikel di The Washington Times tanggal 28 Nopember 2004. Sebagai pimpinan sebuah perusahaan minyak/energi besar di dunia, tentunya pandangannya layak kita diskusikan. O'Reilly mencoba menjelaskan penyebab tingginya harga minyak dewasa ini dalam suatu istilah simple yang ia sebut sebagai "the new equation" atau persamaan baru dalam dunia perminyakan.

Secara singkat, dapat disarikan dari artikel O'Reilly bahwa situasi perminyakan dunia memang sudah jauh berbeda dibanding sebelumnya. Tingginya harga minyak dunia hanyalah merupakan cerminan kondisi real dari supply-demand untuk minyak.

Dari segi permintaan (demand) minyak dunia, akan terjadi peningkatan sebesar 40% dalam dua dekade mendatang. Cina saja di tahun 2004 telah mengalami peningkatan permintaam sebanyak 30%. Tanpa kesadaran akan makin langkanya minyak yang tersedia, maka pola konsumsi yang boros energi pasti makin lama makin tak terkendali yang akibatnya adalah deman akan minyak akan makin besar.

Di lain sisi, supply minyak dunia makin lama makin sulit mengejar pertumbuhan permintaan. Bukan saja mencari ladang minyak baru semakin susah, tapi juga ladang minyak yang ada (seperti di Indonesia) makin lama makin berkurang produksinya, baik karena alasan teknis produksi, geologis, maupun ketidakstabilan geopolitis.

Singkat kata, terjadi ketidakseimbangan antara pertumbuhan supply dibanding pertumbuhan demand; indikator paling jelas dari situasi ini tentunya adalah harga minyak. Yang perlu diingat dan direnungkan lagi adalah era dimana minyak cukup tersedia dengan harga terjangkau sudah lewat. Dimasa datang, minyak akan menjadi komoditi yang main mahal buat kita, sejak negara kita lebih banyak mengkonsumsi daripada memproduksi minyak.

Oleh karena itu, ditinjau dari realita harga minyak sebagai indikator supply-demand di pasar, pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sebenarnya adalah tindakan yang cukup tepat. Pemerintah dan media harus mulai mendidik masyarakat Indonesia bahwa memang minyak itu berharga mahal dan layak untuk dihemat-hemat penggunaannya. Harga yang mahal secara tidak langsung akan mengubah pola konsumsi minyak.

Tentu saja bagi kita masyarakat awam, hal ini bukan sesuatu yang mudah diterima. Efek terburuk dari pencabutan subsidi BBM tentu saja adalah efek domino pada harga-harga barang (termasuk harga kebutuhan pokok) mengingat bahan bakar merupakan variabel utama dari ongkos transportasi yang menjadi salah satu faktor utama ongkos produksi atau harga jual. Seperti yang kita rasakan sekarang, naiknya harga BBM pada masa ekonomi sulit seperti sekarang ini persis seperti tangga yang menimpa kita setelah kita terjatuh.

Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga-lembaga lain yang berkaitan (termasuk universitas) harusnya mulai mengkampenyekan lebih serius dan sistematis seruan untuk menghemat pemakaian energi terutama minyak bumi (bensin, solar,dll). Secara serius pemerintah sebaiknya mulai menyusun kebijakan strategis untuk memulai program penyediaan angkutan masal yang aman dan nyaman untuk kota-kota besar. Mobil pribadi merupakan salah satu pemakai minyak terbesar, apalagi dengan makin populernya mobil bertenaga besar (sekaligus pemakan bensin/solar yang rakus) seperti SUV (Sport Utility Vehicle) untuk keperluan sehari-hari (ke kantor, ke pasar, mengantar anak,dll).

Selain itu, pengembangan energi alternatif mesti mulai dikembangkan lebih serius; energi surya dan mikro hidro adalah alternatif yang sepengetahuan saya sudah dikembangkan sejak dulu namun sebatas riset-riset kecil di universitas dan lembaga penelitian. Energi surya dan mikro hidro mempunyai masa depan yang sepertinya cukup cerah untuk negara kita mengingat sumbernya yang sangat banyak serta makin majunya teknologi untuk meningkatkan efesiensinya.

Akhir kata, pengurangan subsidi BBM memang hal yang sangat menyesakkan, namun hal itu harus kita pahami dan terima sebagai kenyataan hidup dewasa ini. Keadaan sudah berbeda dibanding jaman keemasan kita di era booming minyak di tahun 1970-an (yang juga melahirkan pejabat-pengusaha rakus dan jahat). Sekarang ini, minyak memang bukanlah sesuatu yang gampang dicari atau bukan lagi sesuatu yang murah harganya.

 

Artikel terkait di situs ini:

Oil's New Equation (Bahasa Inggris)

BBM: Naik atau Tidak Naik, that is Not the Question