|
Belajar dari Sejarah(?)
D. Manggala (28 Juli 2005)
Kalau Bung Karno dulu berpesan
"Jas Merah, Jangan Sekali Sekali Melupakan Sejarah",
maka pertanyaan saya belakangan ini adalah "Apa yang
bisa saya pelajari dari sejarah?". Dulu saya nemu beberapa
buku (obralan) yang judulnya "History of Religion",
"History of Philosophy", dan "Map of World
History". Bukunya tebel-tebel dan kertasnya bagus-bagus
tapi dijual dengan harga sangat murah. Inilah pelajaran no
1 dari mempelajari sejarah:
Pelajaran #1: Buku
Sejarah (sebagus apapun itu dibuat/dicetak) pada umumnya tidak
laku, dengan kata lain, manusia secara umum tidak suka belajar
dari sejarah.
Dari membuka-buka buku yang
tebel-tebel tersebut, kalau kita melihat lintasan sejarah
8 ribu tahun terakhir ini (baik dari sisi sejarah dunia, sejarah
agama dan filsafat), secara gamblang akan kita sadar ada satu
tema yang tidak pernah absen dari sejarah manusia: PERANG.
Pelajaran#2: Tidak
akan pernah ada apa yang kita sebut "Perdamaian Abadi"
di dunia ini. Pasti selalu ada perang, entah perang lokal,
perang dunia, perang gerilya, ataupun perang pasca perang
dingin (negara superpower vs. "teroris").
Mungkin akan ada yang bilang
bahwa pendapat diatas adalah pendapat seorang fatalis atau
pesimis, malah mungkin pandangan diatas dianggap sebagai aliran
sesat atau anti-agama. Tapi, temanku, coba kita baca lagi
catatan sejarah dan mungkin direnungkan baik-baik. Karena
kalau kita renungkan dengan baik, ternyata sejak awal sejarah
manusia sampai jaman yang katanya super moderen ini, ternyata
manusia tidak tambah maju ataupun mundur.
Pelajaran#3: Persoalan
manusia dari jaman ke jaman adalah tetap sama; tidak ada perubahan
permasalahan dan cara berpikir antara manusia jaman batu dan
jaman komputer.
Ibaratnya kita merasa sedang
berlari, tapi sebenarnya kita sedang lari diatas treadmill
dengan dinding yang pemandangannya berganti-ganti. Kita merasa
sudah berlari dengan kencang melintasi hutan, gunung, dan
pantai; yang sebenarnya adalah kita lari ditempat dengan setting
yang berubah-ubah. Sejarah manusia adalah sejarah survival.
Kalau ribuan tahun yang lalu kita berburu binatang untuk dijadikan
makanan dan pakaian, maka jaman sekarang ini manusia berburu
uang untuk dibelikan makanan dan pakaian.
Sekali lagi ini bukanlah
sebuah pesimisme; ini adalah renungan saya dari melihat kebelakang
sejauh 8 ribu tahun. Kita mesti melihat ke belakang, karena
ada satu lagi hal yang juga sangat jelas:
Pelajaran#4: Kemiskinan
dan Kejahatan tidak akan pernah punah dari dunia ini.
Selalu akan ada orang miskin,
walaupun itu dengan sistem negara kapitalis ataupun sosialis.
It doesn't matter. Kenapa selalu akan ada orang miskin?
Karena pasti akan selalu ada orang jahat yang mengambil hak
orang miskin.
Dengan empat pelajaran diatas,
apakah berarti tidak ada gunanya lagi kita berusaha? Toh,
bagaimanapun kemiskinan tidak akan hilang; selalu ada kejahatan,
perang, dan ketidakadilan? Nah, inilah pelajaran terakhir
yang mungkin bisa saya ambil dari belajar sejarah:
Pelajaran#5: Selalu
ada orang "GILA" yang akan dicatat oleh sejarah;
baik itu tinta emas, tinta platina, tinta darah.
Selalu akan ada orang yang
cukup gila untuk tidak percaya pada keempat pelajaran pertama
diatas. Selalu akan ada orang yang percaya bahwa ia bisa mewujudkan
perdamaian abadi, atau menghilangkan kemiskinan di dunia.
Ada juga orang-orang yang akan percaya bahwa ia adalah penguasa
dunia, orang-orang yang haus kuasa, dan cukup gila untuk percaya
bahwa ia adalah tuhan.
Menjadikan diri kita sama
dengan kelompok, maka kemungkinan untuk dicatat sejarah akan
hilang.
Lihat sejarah para nabi atau
pemuka agama. Mereka adalah orang-orang yang menjungkirbalikkan
pendapat masyarakat di jamannya. Wright bersaudara adalah
dua orang gila yang menjadi bahan tertawaan di jamannya.
Sebagai penutup, dapat dikatakan
bahwa semakin kita banyak membaca sejarah, semakin aneh dan
lucu rasanya dunia dan hidup ini. Agama yang harusnya menjadi
sumber perdamaian, malah lebih sering menjadi sumber peperangan.
Pemerintah dan Raja yang seharusnya melindungi, malah lebih
sering menjadi penindas rakyat. Semakin canggih teknologi
yang membantu manusia, malah menjadikan manusia bekerja semakin
lama.
Setelah merenungkan kelima
pelajaran diatas, ternyata saya masih bertanya-tanya "Apa
yang bisa saya pelajari dari sejarah?"
Catatan tahun ini:
Di jaman korupsi
merajalela, maka kesempatan untuk menjadi GILA dengan bersumpah
mati melawan korupsi adalah kesempatan tercatat dalam tinta
emas sejarah. Adakah yang berani?
|