beranda.net logo

beranda > artikel > review: confessions of an economic hit man

pic of confessions EHM

Judul: Confessions of an Economic Hit Man

Pengarang: John Perkins

Penerjemah: Herman Tirtaatmaja dan Dwi Karyani

Pengakuan Seorang EHM: Jujur atau Sekadar Sensasi?

D. Manggala (10 Desember 2005)

Saya melihat buku Confessions of an Economic Hit Man ini di toko-toko buku sejak awal tahun 2005 ini tapi selalu "tercegah" untuk membeli karena judulnya yang, menurut saya, terlalu bombastis. Tapi akhirnya saya beli juga edisi terjemahannya beberapa minggu lalu setelah menghabiskan beberapa saat di sebuah toko buku di daerah Kuningan, Jakarta.

Kesimpulan pertama setelah membaca buku ini sampai habis adalah para ekonom (economist) di banyak negara mungkin akan membeci buku ini, terutama mereka yang pernah bekerja di lembaga-lembaga seperti USAID, World Bank, IMF, serta orang-orang yang mungkin secara tidak langsung juga terlibat dalam proyek-proyek yang melibatkan hibah atau bantuan dari Amerika Serikat. Karena menurut pengakuan John Perkins, si penulis buku, sebagai ekonom yang bekerja di sebuah biro konsultan bernama Chas.T.Main, Inc, sebuah konsultan yang menangani evaluasi suatu negara sebelum menerima bantuan dari World Bank (Bank Dunia), semua yang ia kerjakan semata-mata adalah untuk memastikan bantuan yang diberikan akan membuat negara yang dibantu tersebut akan sangat tergantung kepada negara Amerika Serikat dalam bidang ekonomi dan industri.

Teori ini sudah sering kita dengar dari banyak tokoh terkemuka di dunia dan di Indonesia; salah satu yang konsisten dengan teriakan "waspada terhadap negara-negara /badan-badan donor" adalah Kwik Kian Gie, ekonom dan mantan menteri kita yang memang sangat kritis. Walaupun teori ini sudah sering kita dengar, namun kemungkinan besar di buku inilah kita pertama kali mendengar istilah Economic Hit Man atau EHM (kalau diterjemahkan bagusnya jadi "Tukang Pukul Ekonomi" atau "Pembunuh Bayaran Ekonomi"? Atau ada istilah yang lebih bagus?). Tentu saja istilah ini menjadi sangat sensasional bagi banyak orang; pertanyaan saya dan juga seperti ditulis oleh penulis buku ini berdasarkan pertanyaan dari banyak orang adalah "apakah istilah EHM ini memang benar-benar digunakan?" Jawaban John Perkins adalah YA namun hanya digunakan dikalangan terbatas di "klub rahasia" yang direkrut oleh agen dari NSA. Bagi yang belum membaca buku ini, untuk sekadar gambaran, para EHM ini bekerja untuk meyakinkan para presiden atau pemimpin negara-negara berkembang untuk menerima bantuan besar dari lembaga-lembaga donor dunia, dimana para EHM ini menghalalkan segala cara dalam mendesak para pemimpin negara yang dibantunya: dari memanipulasi data, menyogok, menyuap (termasuk dengan seks), dan terakhir mengancam. Jika si pemimpin negara tidak menuruti kemauan EHM ini seperti yang dilakukan Jaime Roldos (Presiden Ekuador) dan Omar Torrijos (Presiden Panama), maka desakan dan ancaman akan berubah menjadi eksekusi yang dilakukan oleh "para serigala".

Bagi banyak orang, cerita diatas mungkin dianggap terlalu seru untuk jadi realita, lebih cocok jadi cerita-cerita spionase ala Sidney Sheldon. Banyak orang akan menganggap John Perkins terlalu berlebihan dalam mengungkapkan kejelekan lembaga-lembaga donor yang seakan-akan memang tidak ada sama sekali berniat membantu negara-negara miskin selain membantu negara-negara besar dan perusahaan-perusahaan besar untuk mengeruk kekayaan-kekayaan alam demi keuntungan sebesar-besarnya. Bagi orang yang tidak sehaluan, tentunya pandangan John Perkins ini akan disimpulkan sebagai "pandangan kaum kiri".

Menurut saya, entah memang EHM dan lembaga-lembaga donor ini seperti yang diungkapkan dalam buku ini, ada kekecewaan yang cukup besar terhadap buku ini: tak ada data pendukung yang spesifik. Sebagai pihak yang mengalami sendiri negoisasi ataupun penyuapan terhadap berbagai negara (termasuk Indonesia tentu saja) seharusnya Perkins bisa menyebut angka, kejadian, tokoh yang lebih spesifik. Hampir semua kejadian diberbagai negara sepertinya ditulis dari data atau informasi yang bisa diambil dari koran ataupun riset sederhana dengan Google. Dalam bab singkatnya tentang periode di Indonesia, tidak ada informasi spesifik yang menunjukkan bagaimana sebagai EHM si penulis buku ini mengeksekusi tugasnya. Hanya disebutkan ia bekerja dalam tim yang terlibat dalam bantuan proyek listrik di pulau Jawa, dan mereka melakukan manipulasi terhadap data. Kok cuma segitu?

Satu hal lagi, adalah sebagai orang yang mengklaim dirinya selalu mempelajari suatu negara sebelum berkunjung, sebagai EHM, John Perkins bisa dianggap tidak memiliki pengetahuan yang mpresif; pengetahuannya tentang Indonesia masih di level turis yang ingin sekadar lihat-lihat, bukan seperti seorang agen rahasia.

Begitulah, buku ini mungkin lebih ditujukan sebagai pengakuan pribadi penulisnya; lebih kepada penulisan pergulatan pikiran seorang ekonom yang merasa bersalah terhadap apa yang dia lakukan. Selain itu ini buku seperti sebuah tribute kepada Roldos dan Torrijos yang keduanya tewas dalam kecelakaan mengingat panjangnya porsi tentang hubungan penulis dengan kedua pemimpin itu diulas dalam buku ini.

Mungkin hal yang menarik yang bisa didiskusikan dari buku ini adalah istilah corportocracy, koalisi pemerintah, bank, dan korporasi dalam mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya demi keuntungan segelintir orang. Sebagai orang yang bekerja di dunia korporasi, tentu saja ada rasa bersalah karena pada intinya digambarkan korporasi-korporasi besar pada umumnya berkoalisi dengan pemerintah negara manapun untuk bahu-membahu mengeruk kekayaan demi keuntungan negara-negara besar. Koalisi ini, menurut John Perkins, tidaklah sesederhana "teori konspirasi" yang digambarkan banyak orang tapi ini lebih bersifat ideologis/filosofis karena tidak banyak orang-orang baik secara tidak sadar bekerja keras mengabdi pada kepentingan corporatocracy. Dari sudut pandang ini, seluruh kehidupan manusia di dunia ini ada dalam cengkeraman corporatocracy, dan kita tidak menyadarinya. Nah, bagian ini mungkin layak untuk didiskusikan lebih panjang.

Di era pasca Sepetmber 11 dan juga Bom Kuta, Mariott, topik tentang tentang corporatocracy dan juga peran negara-negara maju (terutama AS) dalam percaturan global mungkin layak jadi renungan kita semua. Mungkin ini pesan yang ingin disampaikan oleh Perkins. Artikel lain yang mungkin berkaitan dengan topik ini adalah review saya tentang film Life and Debt.