beranda.net>artikel> Sopan di Jalan

Sopan di Jalan, Mencerminkan Budaya Bangsa

 

Bagi yang tidak biasa (atau malah bagi yang biasa?) berkendaraan di Jakarta, pasti merasakan benar betapa jauhnya masyarakat Jakarta dari kesan Bangsa Indonesia yang “ramah dan sopan.” Menyalip tidak pada tempatnya, tidak berhenti di “stop sign”, tidak memperlambat kendaraan di “yield sign” atau malah melanggar lampu merah! Hal ini tentu saja akan mengundang banyak komunikasi tambahan dalam berkendaraan; misalnya: klakson yang berlebihan, mengumpat di jalanan (atau mengeluarkan koleksi nama-nama binatang) atau malahciumanantar kendaraan atau perkelahian antar pengendara.

Jadi ada baiknya saya memajang sebuah artikel (dari detik.com) tentang pentingnya Defensive Driving seperti diungkapkan oleh Healthy, Safety, Security, and Environment Manager Shell Co. in Indonesia. Sepanjang yang saya tahu, beberapa perusahaan multi nasional seperti Shell, PT.Caltex Pacific Indonesia, Schlumberger berusaha menerapkan Defensive Driving di lingkungan kerja masing-masing. Jadi, seandainyapun kita tidak bisa mengambil banyak manfaat dari keberadaan perusahaan-perusahaan seperti diatas, paling tidak masyarakat Indonesia (khususnya Jakarta) melihat contoh disiplin berkendaraan yang diterapkan perusahaan-perusahaan tersebut.

Untuk lebih lanjut tentang Defensive Driving, silahkan dibaca artikel yang juga bisa di akses dari: <http://www.detik.com/otomotif/berita/200311/20031120-121202.shtml>

Defensive Driving ala Shell
Reporter: Maryadi

 Otomotif - Jakarta, Keruwetan dan kemacetan lalu lintas di Jakarta tidak terlepas dari buruknya mental dan attitude pengendara. Begitu juga dengan tingkat kecelakaan yang tinggi. Sebuah tawaran Defensive Driving agaknya bisa menjadi solusi bagi pengendara untuk tetap santun di jalan sehingga menuju zero accident dapat tercapai.

Bagi sebagian besar pengendara di Indonesia konsep Defensive Driving masih sangat asing, namun tidak bagi negara-negara luar. Karena beberapa negara maju sudah menerapkan konsep ini, untuk mewujudkan keselamatan dan kenyamanan berkendaraan. Shell Indonesia sebagai salah satu produsen oli kendaraan bermotor, mencoba "membumikan" Defensive Driving.

Tentunya akan ada pertanyaan apa perbedaan antara Safety Driving dengan Defensive Driving, karena keduanya sama-sama punya tujuan untuk keselamatan. Safety Driving lebih mengarah pada kemampuan atau skill pengendara dan kelaikan sebuah kendaraan. Namun, Defensive Driving tidak hanya itu, tapi juga lebih mengarah pada pola sikap, mental serta attitude pengendara.

Ada 4 kunci utama dalam Defensive Driving, pertama Alertness (kewaspadaan) dimana pengendara waspada terhadap pengguna jalan lain dan bertindak benar. Kedua, Awareness (kesadaran) yakni sadar dan berpengetahuan serta prosedur berkendaraan yang aman. Ketiga Attitude (sikap dan mental) dimana pengendara lebih mementingkan kepentingan umum dan kelima Anticipation (antisipasi) yakni belajar membuat skenario berkendaraan yang baik sebagai evaluasi setiap kita berkendaraan.

Konsep ini boleh dibilang sebuah mimpi jika dihubungkan dengan kenyataan makin ruwet dan macetnya lalu lintas di Jakarta. Tingkat kemacetan yang tinggi, cenderung membuat emosi pengendara meningkat, saling potong, saling salip, melanggar rambu dan marka dan sebagainya.

Namun Shell Indonesia percaya ini akan bisa diterapkan walaupun dalam jangka waktu yang panjang. "Kita pernah menerapkan konsep ini terhadap karyawan Shell Indonesia, dan berhasil," kata Dodi Budiono, Health, Safety, Security and Enviroment Manager Shell Co in Indonesia.

Setelah berjalan dengan baik program itu, kata Dodi, Shell mencoba menerapkan ini ke masyarakat luas. "Kenapa hal yang baik ini hanya diterapkan kepada karyawan Shell saja. Kenapa tidak untuk konsumen, padahal mereka telah memberikan nilai lebih kepada kita," katanya. Atas dasar itulah, Shell mulai melakukan upaya untuk mengkampanyekan program ini, sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan tidak melulu memikirkan profit.

Tentu saja untuk menjalankan program ini, tidak terlepas dari harus adanya kebijakan dari pemerintah yang mendukung. "Untuk itu kita juga akan bekerjasama dengan pemerintah seperti Departemen Perhubungan, Kepolisian. Program ini akan terus berjalan secar simultan, untuk tahap awal kita akan campaign di sekolah-sekolah untuk mengenalkan program ini," ujar Dodi sembari mengungkapkan program ini akan berjalan mulai tahun depan. Untuk saat ini, Shell masih mengkampanyekan Defensive Driving melalui media.

Dodi mengakui, untuk mewujudkan ini memang perlu kerja keras dan waktu yang cukup lama, karena merubah mental orang tidak lah mudah. "Memang agak sulit, tapi kalau tidak dicoba sekarang kapan lagi," demikian Dodi.