beranda.net>Artikel>indonesia dan nigeria
 

Indonesia (ternyata masih) lebih baik….dibanding Nigeria:

Satu alasan lagi mengapa kita mesti harus tetap optimis

Oleh: D.Manggala (26 April 2004)

Anggaplah cerita ini sebagai suatu cara untuk melihat masih ada kesempatan bagi negara yang kita cintai, Indonesia. Walaupun terpaksa harus dibandingkan dengan Nigeria, yah gimana lagi..memang kita masih ada di level itu.

Mungkin kita udah sama-sama tahu kalo Indonesia adalah salah satu negara terkorup di dunia; terutama pemimpin-pemimpinnya. Menurut Transparency Global Corruption Report 2004, Pak Harto memimpin sementara rekor dunia diikuti Marcos (tetangga kita di ASEAN) dan Mobutu Sese Seko (Congo). Sementara para koruptor lain yang terpaksa gigit jari karena terlempar dari tiga besar adalah antara lain Sani Abacha (Nigeria),  Slobodan Milosevic (Serbia), Duvalier (Haiti), dan kawan-kawan lainnya (agak males nulisnya karena namanya susah-susah). Yang jelas Filipina cukup berprestasi juga di bidang maling duit negara karena selain Marcos, juga ada pemimpin lain dari negara itu yakni Joseph Estrada di urutan buncit 10 besar. Oh ya, Pak Estrada ini diperkirakan berhasil menggondol uang rakyatnya sebesar 80 juta dolar amerika; nah, anak-anakcoba bayangkan berapa kira-kira uang yang digondol oleh juara satunya? Susah menebak? Baiklah sebagai tips..juara 2 diperkirakan berhasil melarikan duit rakyat Filipina sekitar 10 milyar dolar amerika. Ooo..banyak yaaudah malingnya gampang dan hasilnya banyak, ternyata model maling kayak begini gampang dilupakan orang, malah duit yang banyak itu bisa dipake modal macam-macam (misalnya buat anak atau famili ikutan jadi calon pemimpin lagi)…apa ngga enak?? Jadi korupsinya bisa lancar dan berkesinambungan.

Ok, itu kan pemimpinnyagimana dengan rakyatnya? Nah, bagi yang suka main-main ke online marketplace kayak eBay pasti sudah hapal dengan kalimat ini “No buyers/sellers from Indonesia and Romania” atau “No Shipping to Indonesia.” Ini bukan konspirasi orang bule buat memusuhi orang Indonesia. Ini memang karena ada segelintir orang yang (ngakunya jago komputer) suka make kartu kredit orang buat belanja-belanja online. Istilah-nya carding. Nah…menurut cartserver.com sebuah situs yang berkecimpung dalam penyediaan online store, peringkat negara yang mempunyai ‘e-maling terbanyak adalah sebagai berikut: Romania, Indonesia, Singapore, Ghana, Ukraine, Uganda, Nigeria, dan Hungary (sayangnya ada catatan untuk negara Singapore yang menyatakan bahwa banyak transaksi nakal dari Singapore berlanjut dengan shipping ke Indonesia, jangan-jangan kalo data tersebut bener, Indonesia jadi juara lagiaduuuhh…).  Yang lebih seru lagi, ada carder dari Indonesia yang mengaku melakukan transaksi illegal (memakai kartu kredit orang lain) itu dengan alasan nasionalisme; katanya, orang Amerika/Barat udah kaya-kaya, selama ini sudah dapat banyak duit dari mengeksploitasi negara-negara miskin, jadi dia ngga apa-apa dong nyolong dari mereka. Wah keren juga argumentasinyaTapi kalau diliat barang jarahan carder asal Indonesia yang rata-rata barang-barang hedonis kayak kaca mata Oakley atau langganan Playboy online, yaa..itu mah namanya mau jadi maling aja pake banyak alesan. Lagian carder-carder kita ini sok canggih..ngakunya hacker tapi mainnya carding..itu kan monyet minum cerebrovit juga bisa (sorinyet, bukan maksud ane menghina ente, itu hanya perumpamaan belaka).

Sutralah..sebelum dibilang termasuk aliran sinis kronis, kita kembali ke topik (oooh ada topiknya tho..) yaitu seperti yang diilustasikan oleh judul diatas. Majalah The Economist pernah memuat artikel berjudul “A tale of two giants: Why Indonesia has beaten Nigeria hands down.” Walaupun artikel ini sudah lama, yakni  edisi 13 January 2000, rasanya topiknya masih relevan terutama untuk menumbuhkan rasa optimis; bahwa kita bukan yang terburuk. Kita masih bisa bangun, tidak ada kata terlambat. Hari ini lebih baik dari kemarin, besok lebih baik dari hari ini. Mulia kan tujuan gue?

Artikel di The Economist ini isinya adalah perbandingan dua negara yang terkenal karena pemimpinnya adalah koruptor kelas berat serta mempunyai karakteristik yang menurut The Economist “superficially similar”. Dua negara ini sama-sama berpenduduk banyak, sama-sama mempunyai etnis yang sangat beraneka ragam, sama-sama lama dalam kekuasaan militer, dan sama-sama mendapat keuntungan besar waktu booming minyak tahun 70-an.

Ternyata, sesuai dengan artikel tersebut, Indonesia masih lebih lumayan dari Nigeria karena walaupun banyak dana yang dikorupsi, masih ada dana yang memang digunakan untuk pembangunan infrastruktur ataupun investasi yang berguna. Pemimpin-pemimpin Nigeria benar-benar dengan tanpa malu-malu merampok dana pembangunan negaranya tanpa sisa. Itulah sebabnya Indonesia masih lebih baik karena GDP-nya masih tumbuh dan beberapa sektor masih bisa berjalan; sedangkan Nigeria jalan ditempat karena hasil korupsi hampir semuanya dilarikan ke luar negeri untuk disimpan dalam bank atau investasi yang tak ada hubungannya dengan pembangunan Nigeria. Sebagai ilustrasi, ada satu anekdot yang menurut artikel tersebut sangat sering diceritakan di Nigeria, ceritanya begini…:

Seorang Indonesia dan seorang Nigeria sama-sama melanjutkan sekolah di Amerika Serikat di tahun 60-an dan akhirnya menjadi teman baik. Setelah lulus, dua-duanya kembali ke negara masing-masing dan bekerja di pemerintahan. Beberapa tahun kemudian si orang Nigeria berkunjung ke rumah temannya di Jakarta. Si orang Nigeria tersebut sangat kagum dengan kemewahan dan kemegahan rumah temannya, bahkan di garasi terparkir sebuah Mercedes mewah. “Bagaimana kamu bisa mempunyai gaya hidup semewah ini dengan gaji kamu sebagai pegawai pemerintah?“ tanya si orang Nigeria ingin tahu. Si orang Indonesia tersenyum, “Kamu lihat jalan itu?” katanya sambil menunjuk jalan bebas hambatan di depan rumahnya,”Sepuluh persen.”

Tak seberapa lama kemudian, giliran orang Indonesia berkunjung ke Nigeria. Sekarang giliran dia yang tercengang karena rumah temannya sepuluh kali lebih mewah dari rumahnya di Jakarta. Di parkiran rumahnya ada sepuluh Mercedes terbaru. Karena kagum, ia menanyakan darimana temannya mendapat uang. Si orang Nigeria berkata,” Kamu lihat jalan itu?” katanya sambil menunjuk hutan yang masih sangat lebat di dekat rumahnya, “seratus persen.”

Inti dari artikel dan cerita diatas adalah Indonesia masih punya harapan; koruptor dari Indonesia walopun juara satu, tapi bukan raja tega kayak temennya di Nigeria. Kalo dulu yang dikorup 10%, nanti harus jadi 5% dan akhirnya 0%. Semoga siapapun pemimpin kita nanti, ia haruslah orang  yang kuat; kuat untuk menahan godaan korupsi.

Are you strong enough to be my president?