beranda.net logo

beranda > artikel > interpretasi the matrix trilogy

thematrix101.com

Interpretasi "The Matrix - Trilogy"

D. Manggala (3 Mei 2006)

Film-film kami bukanlah untuk penonton yang pasif. Sudah banyak film seperti itu dibuat. Kami ingin penonton kami untuk harus berusaha, berpikir, dan berpartisipasi untuk bisa menikmati film-film kami.

- Larry dan Andy Wachowski - (source: Wikipedia)

Prolog

Saya menonton The Matrix pertama kali sekitar tahun 1999. Saya sangat terhibur, bukan karena style-nya yang (setengah) orisinil saja tapi lebih karena dialognya. Sejak tahun 99 itu saya membaca berbagai referensi tentang film The Matrix dan baru kali ini bisa menuliskannya. Saya bukan orang yang sangat relijius juga bukan ahli filsafat, tapi dalam banyak hal film The Matrix - Trilogy (The Matrix, The Matrix Reloaded, The Matrix Revolutions) membantu saya memahami beberapa hal.

Tentunya harus saya tekankan di awal, bahwa interpretasi ini sebenarnya bukan orisinil ide saya, tapi lebih merupakan summary atas berbagai referensi, terutama dari Philosophy of the Matrix, The Matrix101, dan Wikipedia, yang dituliskan lagi berdasarkan pemahaman saya. Maaf apabila saya banyak menghubungkan dengan kepercayaan saya karena, sekali lagi, saya membuat interpretasi film dibantu banyak referensi dan dituliskan lagi berdasarkan apa yang saya tahu. Tentu saja masih banyak ruang untuk interpretasi yang lain.

Hidup ini hanyalah mimpi?

Morpheus:

Bagaimana jika kau tidak bisa bangun dari tidurmu, Neo? Bagaimana kau tahu bedanya dunia mimpi dan dunia nyata?

Hidup dalam "the matrix" yang menurut tokoh Morpheus adalah "penjara pikiran" serta bagaimana membebaskan pikiran dan hidup kita dari penjara itu adalah salah satu kajian utama dalam kepercayaan Hinduisme dan Budhisme dan juga banyak kepercayaan lain. Itulah sebabnya banyak ajaran yang sangat menekankan bangunnya manusia dari tidurnya yang panjang. Bahwa hidup kita ini adalah fana, bahwa kita harus BANGUN....(ingat adegan Neo tertidur di depan layar komputer, lalu satu demi satu muncul tulisan "Wake up Neo....")

Seperti yang banyak didiskusikan di berbagai tulisan, bahwa semua nama, adegan dan item dalam trilogi The Matrix merupakan simbol yang dipilih secara detail dan hati-hati oleh sutradaranya, Wachowski bersaudara. Maka tidak salah jika saya menyimpulkan bahwa konsep "hidup ini hanyalah mimpi" merupakan topik utama trilogi ini karena satu alasan: lagu penutup (saat credit title muncul) menggunakan mantra yang diambil dari Upanisad:

Asato ma sad gamaya,
tamaso ma jyotir gamaya,
mrtyor mamrtam gamaya.
Shanti, Shanti, Shanti.

Bimbinglah hamba dari kegelapan menuju terang,
dari yang tak nyata menuju yang nyata,
dari kematian menuju keabadian.
Damai di hati, damai di dunia, damai selalu.

 

Mantra ini adalah salah satu mantra yang menekankan untuk mencapai moksa, tujuan tertinggi dalam Hinduisme yaitu bangunnya manusia dari hidup yang fana untuk menyadari jati diri sepenuhnya. Seperti ditulis dalam banyak artikel, Yoga adalah salah satu cara mencapai moksa. Yoga mengajarkan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah untuk menyadari hidup ini hanyalah "tipuan/maya" dan untuk "bangun" menyadari jati diri kita sepenuhnya (jadi, yoga bukan cuma untuk senam mengencangkan bokong, seperti dimuat di majalah-majalah kesehatan).

Film The Matrix menggunakan dongeng mutakhir manusia melawan mesin & komputer untuk menggambarkan bagaimana manusia tidak menyadari bahwa apa yang dipahami sebagai hidup, hanyalah mimpi belaka.

Dongeng di jaman komputer

Dari situs The Matrix 101, saya tahu bahwa buku yang digunakan Neo untuk menjual "sesuatu" dalam adegan pembuka The Matrix adalah sebuah buku karangan Jean Baudillard berjudul Simulacra and Simulation. Buku ini, konon, adalah salah satu dari tiga buku yang diberikan oleh Wachowski bersaudara kepada Keanu Reeves sebelum Keanu menerima naskah. Dua buku lain adalah Out of Control (Kevin Kelly) dan Introducing Evolutionary Psychology (Dylan Evans). Dan, semua buku itu belum pernah saya baca....:)

Dengan jenius, Wachowski memasukkan semua unsur dalam berbagai kajian filsafat, agama, sains kedalam sebuah dongeng yang mencekam. Bahkan pemilihan nama semua tokoh penuh dengan perhitungan.

Misalnya nama Neo, yang bisa berarti baru ("pembaharu") tapi juga permainan kata dari the "One". Pasangannya adalah Trinity, yang tentu dekat dengan kepercayaan Kristen adanya "yang satu" dan Trinitas (seperti juga dalam Hinduisme, antara Yang Tunggal dan Trimurti).

Tentu saja seperti dongeng pada umumnya, film The Matrix mengajarkan sesuatu melalui tokoh-tokohnya. Apakah kita memilih jalan yang ditempuh Neo (bangun dan keluar dari matrix) atau menjadi Cypher ("ignorance is bliss"). Seluruh pikiran manusia sepertinya diwakili oleh Agent Smith dengan dialog-dialog yang tajam ( seperti "semakin lama semakin saya sadar, bahwa manusia adalah virus terjahat di muka bumi ini").

Bagi saya pribadi, tokoh-tokoh seperti Morpheus, Oracle, Agent Smith dan the Architect adalah guru utama dalam dongeng moderen ini. Banyak dialog-dialog tokoh ini yang akan mengingatkan kepada kisah manusia gua-nya Socrates dan membantu saya memikirkan lagi kutipan paling terkenal dari Descartes: Cogito, Ergo Sum*

 

 

 

 

 

 

*I think; therefore I am.

But..who "I" am? What "I" am?

Is "I" my body & mind? If the body and mind is gone, is "I" still exist?