beranda.net>artikel>pemilu di negara reptil

 

(HASIL LIPUTAN WARTAWAN TENTANG)

PEMILU DI NEGARA REPTIL

oleh Parni Hadi

 

 

Ini ceritera tentang sebuah negara Reptil

Penduduknya terdiri dari berbagai bangsa

Ada kadal, buaya dan ular

Itu tiga suku bangsa terbesar

Lainnya ada cicak, komodo

Tokek dan kodok.

Ada juga bulus atau kura-kura

Semuanya warga negara

Tak peduli besar atau kecil.

Sebagaimana layaknya sebuah negara,

Negara Reptil menganut sistem demokrasi

Dan, untuk itu perlu diadakan Pemilu juga

Setiap lima tahun sekali.

Warga negara Reptil sudah terbiasa dengan Pemilu

Yang dimulai dengan penyusunan daftar caleg,

Yang belum-belum sudah ribut, usreg

Ribut, padahal belum tentu laku.

Masing-masing ingin dapat nomer topi,

Yang berarti calon jadi

Bukan nomer sepatu,

yang berarti nasib belum tentu.

Bangsa Kadal mempunyai Partai Kadal

Bangsa Buaya Partai Buaya

Bangsa Ular, tentu saja Partai Ular

Bangsa Bulus, Partai Bulus

Tapi tak lulus karena

Terlalu mengejar fulus

Cicak, komodo dan tokek

Tahu diri sejak awal

Kecil, miskin tak berdaya

Karena itu pilih berada di luar.

Hingga tak perlu rogoh kocek.

Partai harus banyak akal,

Itu bukan monopoli Partai Kadal

Yang terkenal suka mengkadali

Partai Buaya tanpa kecuali

Ingat pepatah yang berbunyi

Air mata buaya

Partai Ular demikian juga

Ingat saja kata-kata:

Ular berkepala dua.

Semuanya tidak dapat dipercaya.

Ijazah palsu, janji palsu

Semuanya palsu.

Cicak lebih senang jadi pengamat,

Kerjanya gampang: pasang mata dan bicara

Sambil berharap rejeki lewat,

Sekalipun cuma sisa-sisa.

Komodo tak mau ambil resiko,

Lebih baik diam, masa bodo.

Tokek sejak dulu pilih jadi peramal

Sedikit akal untuk membual.

Kodok jadi penggembira di pojok

Takut kena bacok

Akal-akal terjadi tidak hanya antar partai,

Tapi juga intra-partai,

Jegal menjegal, jagal menjagal

Adu kuat siapa yang paling tebal,

Muka dan kantongnya.

Semuanya niatnya sama

Ingin duduk di kursi

Seraya menangguk rejeki.

Tak hanya rakyat yang dibujuk dan dirayu,

Tetapi juga dukun seluruh negeri,

Tokek, tanpa kecuali

Bunyi suaranya diburu.

"Apa saya jadi?, Caleg Kadal berseru.

"Kocek, kocek", jawab si Tokek

Bagaimana nasib saya, Caleg Buaya mengadu

"Kocek, kocek, kocek ", lagi jawab si Tokek

"Saya pasti jadi kan", Caleg Ular bertanya ragu

"Kocek", terdengar lagi dari mulut si Tokek.

Ccckk, ccck, ccck, decak si Cicak

"Semuanya jawabnya kok kocek", katanya memecah sunyi.

Komodo cuma melongo, masa bodo

Si kodok diam-diam maju, bernyanyi

Mirip lagu keroncong:

"Kang kung kong"

"Kang kung kong"

"Yang menang yang tebal kantong"

"Yang menang yang pelihara cukong"

Cccck ccckk ccck

Inilah kisah Pemilu di Negara Reptil

Alias Negara Republik Tilep.

 

Jakarta, 29 Februari 2004

(Dibaca pada Pesta Muharam 1425 di Taman Ismail Marzuki)

-Diambil dari milis Musyawarah Burung-