beranda.net>artikel>mengapa saya memilih SBY?

 

Mengapa Saya Memilih SBY?

Oleh: D. Manggala (5 Mei 2004)

Pemilu Presiden sebentar lagi. Banyak yang antusias, banyak juga yang biasa aja. “So What?” kata mereka yang cuek. Saya sendiri cukup antusias terutama karena baru kali ini bisa langsung milih presiden; biasanya kan cuma nyoblos partai.

Bagi yang antusias, ngomongin siapa yang cocok jadi presiden lumayan seru juga. Banyak teori-teori yang melandasi pilihan masing-masing orang, dari teori yang sophisticated kayak teori konspirasi militer, teori CIA, koalisi-koalisi sampai yang berbau humor, kayak:

1. “Gue ngga akan pilih SBY, tapi pilih BDG aja. Kan lebih deket…” kata Siwi yang setia sampe mati sama Persib.

2. “Kalo gue bakal pilih Gus Dur, soalnya beliau banyak menciptakan lapangan kerja..kayak pembisik,dll..” kata Lukman yang sedang honeymoon.

Demikianlah saudara-saudarakuseru juga ternyata kalo lagi bikin analisis untuk kandidat pemimpin kita, lagian..heeiiii..siapapun yang menjadi presiden dia yang akan membawa kita ke masa depan; for the better or worse!

Saya sendiri menentukan pilihan berdasarkan teori yang saya pelajari waktu ikut ujian masuk perguruan tinggi dalam menjawab soal pilihan ganda; teorinya gini:

Kalau kamu tidak yakin dengan jawaban yang tepat, carilah jawaban yang pasti tidak tepat. Lalu coretlah pilihan yang tidak tepat itu. Jika ada lima pilihan, dan kamu berhasil mencoret empat pilihan, maka jawaban yang tepat adalah pilihan yang tidak kamu coret.”

Doh!

Walaupun kelihatannya susah, prakteknya gampang banget. Begini

Dari kandidat presiden yang ada yakni Amien Rais, Abdurahman Wahid (Gus Dur), Megawati, Nurcholis Madjid, Siswono Yudhohusodo, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wiranto, saya belum tahu yang mana yang akan jadi pilihan saya.

Nah, dari sekian kandidat saya akan eliminate calon yang pasti saya tidak akan pilih:

Gus Dur dan Mbak Mega. Kenapa? Alasannya sederhanagiliran dong Mas/Mbak

Kemudian saya mencoret Wiranto dari daftar pilihan saya, karena beliau adalah calon dari Golkar yang mana daripada ketua partai itu adalah sebagaimana yang kita ketahui adalah Bapak Akbar Tanjung yang mana kita ketahui juga pernah disangka daripada korupsi walaupun akhirnya bebas yang mana yang daripada cukup mengherankan adalah rekan-rekannya daripada Abang kita ini semua masuk bui antara lain Rahardi Ramelan, Dadang Sukandar, dan Winfred Simatupang. Itu baru yang muda, banyak lagi mbah-mbahnya korupsi di partai ini yang tak tersentuh daripada apa yang namanya hukum.

Demikianlah alasan saya (hehehe..ribet yah?). Plus, Wiranto sendiri penuh dengan kontroversi seputar masalah Timor Leste,dll.

Nah, dari sini tinggal Amien Rais, Nurcholis Madjid, Siswono Yudohusodo, dan SBY. Udah agak berat nih nyoretnya

Tapi saya memutuskan untuk mencoret Amien Rais. Mengapa? Sebenarnya cukup susah juga mencoret Bapak kita ini mengingat Amien Rais adalah politikus sejati; dalam artian beliau adalah tokoh yang memang ahli politik. Apalagi dengan sederet gelar akademis yang hampir semuanya didapat dari universitas terkenal di AS plus beliau cukup dikenal sebagai tokoh yang bersih dari KKN. Tapi menurut saya, Amien Rais belum berhasil melompat dari jalur politikus ke jalur negarawan; Pak Amien penuh dengan siasat, lika-liku koalisi, dan lain-lain yang membuat citra Pak Amien dikenal sebagai orang yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan, suka menggunting dalam lipatan. Jadi terpaksalah dicoret.

One more down. Tinggal Cak Nur, Siswono dan SBY. Siapa yah mesti dicoret duluan?

Saya coret Siswono beberapa alasan. Alasan utama adalah karena dukungan untuk Pak Sis (disingkat aja deh namanya) belum cukup kuat. Sebagai kandidat, beliau cukup ideal, mengingat imagenya sebagai tokoh yang bersih dari KKN. Begitu juga dengan komitmennya terhadap dunia pertanian, yang memang seharusnya perlu didukung banyak pihak. Tapi mengingat dukungan yang belum kuat, kalau Pak Sis mesti head to head dengan Wiranto, wah bisa Wiranto yang maju. Demikian alasan saya.

Nah, diantara Cak Nur dan SBY, saya mesti coret Cak Nur dulu.

Cak Nur adalah sosok pemimpin yang ideal. Wawasan luas, bersih, smart serta seorang nasionalis-agamis yang cocok dengan kebutuhan Indonesia. Yang jadi masalah adalah, Cak Nur masih ragu-ragu untuk maju atau tidak. Selain itu Cak Nur, menurut saya, kurang decisive sebagai seorang pemimpin, karena beliau adalah memang tipe pemikir. Kadang-kadang, seorang pemikir memang kurang cocok menjadi pemimpin; mungkin Cak Nur memang lebih cocok jadi Guru Bangsa. (Begitu juga Gus Dur; Gus Dur is a brilliant thinker (and a funny guy), but he is just not a right leader for us; at least for now).

Nah, akhirnya sampailah saya pada SBY.

Tunggu dulu…kawan-kawan saya akan langsung memberikan argumentasi kuat,”SBY berasal dari militer!” Apalagi memilih pasangan Yusuf Kalla dari Golkar yang mana daripada partai…(udah ngga usah diterusin ngomong Golkar lagi). Intinya, kombinasi Militer-Golkar? Hmmm…seems familiar and scary, huh? Memang inilah kelemahan dari pasangan ini.

Tapi kalau bicara dari kekuatan, ada image yang kuat dari SBY yang membuat saya tidak mencoret beliau dari awal walaupun berasal dari militer.

Pertama, SBY kelihatan tahu apa yang harus dilakukan. Sepertinya dia punya visi yang kuat mau membawa bangsa ini ke depan.

Kedua, SBY punya dukungan yang kelihatannya cukup kuat dimana-mana, jadi seandainya nanti harus berhadapan dengan kandidat yang tidak terlalu saya favoritkan (kayak Mbak Mega atau Pak Wiranto), kemungkinan SBY masih unggul.

Ketiga, SBY menampilkan diri sebagai “a strong leader” yang memang kita butuhkan saat ini. Bangsa kita ini butuh keluar dari kemelut politik yang njleimet dan ngga perlu kayak Buloggate, Semanggi gate, anu gate, dan yang lain-lain....kita butuh pemimpin yang membawa kita lewat dari crisis circle. Bagi saya SBY sepertinya membawa harapan.

Tapi satu catatan kecil buat saya adalah, seandainya pasangan SBY-Yusuf Kalla (terus terang saya ngga sreg dengan pasangannya SBY ini) nanti tidak menang, kalau pasangan yang menjadi presiden nanti adalah Amien RaisSiswono, atau Cak Nur (kalau emang jadi maju) saya rasa situasinya akan tetap lebih bagus dari sekarang.

Terus satu catatan lagi mengenai partai, sampai saat ini PKS benar-benar menjadi bintang dua pemilu terakhir ini. Kalau karakteristik partai seperti ini (santun, intelek, bebas rusuh) mendominasi dunia politik kita, saya yakin bangsa kita bakal cepat maju. Tapi ternyata yang menang adalah partai yang mana daripada yang apa namanya tu…ah sudahlahcapek