Tentang Dee, Iwan Fals, dan Simbol-Simbol Hindu
D. Manggala (11 Juni 2004)
Beberapa hari ini
kita banyak membaca
dan mendengar
pembicaraan seputar tuntutan dari Forum Intelektual
Muda Hindu Dharma (FIMHD) yang
dipimpin Arya
Wedakarna kepada Iwan Fals untuk mengganti sampul album terbaru Iwan yang berjudul Manusia ½ Dewa, karena menurut FIMHD sampul itu adalah gambar
Dewa Wisnu dan
Garuda--pemasangan gambar tersebut dapat menimbulkan salah persepsi terutama berhubungan dengan judul albumnya
yang menurut FIMHD tidak
relevan dengan gambar yang dipasang. Setelah
pemberitaan yang cukup ramai, akhirnya terjadi kesepakatan antara FIMHD dan pihak perusahaan rekaman Musica (recording
company-nya Iwan
Fals) dengan keputusan
sementara yakni tidak
perlu terjadi penggantian
sampul album karena
tidak ditemukan unsur pelecehan seperti dituduhkan, serta adanya dukungan dari unsur
masyarakat Hindu Indonesia terhadap
Iwan Fals(termasuk dari
kalangan artis seperti Dewa
Bujana dan
grup punk asal Bali Superman
is Dead).

Sampul Kaset Iwan Fals terbaru
|

Salah satu penggambaran Dewa
Wisnu (dari googling dengan keyword = "wisnu"
dan "garuda")
|
Bagi yang belum lupa,
FIMHD ini juga
beberapa waktu lalu pernah menuntut
hal yang sama
untuk novel Supernova Akar
karangan Dee. Yang
dipermasalahkan adalah karena novel ini memasang Omkara (aksara
OM) sebagai sampul novel tersebut. Setelah pemberitaan yang cukup ramai juga, akhirnya
Dee dan penerbitnya
(Bark Communication) memutuskan
untuk mengganti sampul tersebut menjadi tanpa gambar
sama sekali
(alias bolong).

Sampul Supernova Akar
|

Omkara
|
Relevansi
Yang
pertama perlu diungkapkan disini tentunya bahwa secara pribadi
saya yakin sekali bahwa tentunya tidak ada maksud dari Dee
maupun Iwan Fals untuk melecehkan pemeluk Hindu. Dilihat dari
penempatan simbol-simbol tersebut tentunya kita sudah maklum
bahwa mereka sebagai seniman menempatkan simbol tersebut sebagai
sesuatu yang secara artistik maupun filosofis dapat mewakili
karya mereka. Namun peersoalannya adalah: apakah itu
relevan?
Hal
inilah yang sepertinya menjadi titik tolak gugatan Arya Wedakarna
dan FIMHD terhadap Dee dan Iwan Fals karena mereka beranggapan
penempatan simbol tersebut tidak relevan dan yang dikhawatirkan
bisa misleading terhadap orang yang tidak mengetahui
arti simbol tersebut. Bagi FIMHD dan sebagian masyarakat Hindu,
simbol Dewa Wisnu dan "manusia 1/2 dewa" jelaslah
tidak relevan, sama halnya dengan cukup jauhnya hubungan antara
Omkara dan Supernova Akar.
Tapi
perlu dicatat bahwa tentunya tidak semua orang (terutama pemeluk
Hindu) berpendapat seragam. Tradisi Hinduisme memberikan ruang
yang sangat besar untuk interpretasi bagi pemeluknya, yang
akan menimbulkan berbagai perbedaan dalam pemahaman filsafat,
upacara dan upakara (alat upacara)-termasuk penggunaan simbol-
yang akan sangat tergantung pada tingkat intelektual serta
waktu, tempat dan keadaan.
Disini
ada sedikit perbedaan antara kasus Iwan Fals dan Dewi "Dee"
Lestari; penggunaan simbol Dewa Wisnu dan Garuda mempunyai
ruang interpretasi yang lebih besar karena pemahaman konsep
"dewa" diantara pemeluk Hindu sangat bervariasi
ditambah lagi penggambaran Dewa Wisnu lebih banyak terkait
dengan unsur seni. Misalnya, bisa saja kita katakan bahwa
gambar di sampul itu sebagai manusia 1/2 dewa mengendarai
burung, bukannya Dewa Wisnu (banyak perdebatan bisa terjadi
termasuk: "Emang loe pernah liat Dewa Wisnu? Kok loe
yakin yang digambar ituadalah gambar Dewa Wisnu?").
Sedangkan pada kasus Dee, karena yang dipakai adalah Omkara
(simbol dari Brahman-konsep tertinggi dalam Hinduisme) yang
merupakan simbol paling penting dalam agama Hindu sekarang
ini (terutama setelah Suastika terlalu identik dengan Nazi
dan Hitler), maka lebih banyak pihak yang keberatan dengan
pencantuman lambang tersebut pada sampul sebuah novel. Tentu
saja ada juga yang oke-oke saja terhadap penggunaan lambang
Omkara itu. Bagi sebagian masyarakat Hindu, simbol tidaklah
terlalu penting dipermasalahkan karena: the
map is not the geography.
Arts vs. Beliefs
Tentu
saja kontroversi diatas bukan yang pertama dan juga bukan
yang terakhir; setiap saat akan ada titik tabrak antara seni
dan keimanan. Dua-duanya bersifat subyektif dan berdasarkan
hati dan rasa, hanya saja kalau seni mendasarkan pada kebebasan
berkespresi, keimanan lebih pada keyakinan total terhadap
sesuatu (dogmatik).
Bagi
Iwan Fals dan Dee, permintaan mengganti sampul dari karya
mereka adalah sesuatu yang sangat berat, karena itu bagian
dari karya, masterpiece mereka. Pemilihan simbol, kata, warna
tentunya merupakan sebuah kesatuan; melarang penggunaan salah
satu saja pasti dirasakan sebagai sebuah pemasungan kreativitas.
Bagi
sebagian umat Hindu, pemakaian simbol itu dalam sesuatu yang
bersifat non-relijius (terutama oleh umat non-Hindu) adalah
sesuatu yang tidak dapat dibiarkan. Bagi sebagian umat Hindu,
seperti diwakili oleh FIMHD, simbol itu bukan sekadar gambar
atau tulisan tapi merupakan sesuatu yang mereka yakini lebih
tinggi dari hidup mereka sendiri.
Disinilah
sebuah dialog dan peran mediator sangat diperlukan.
Dialog
Baik
FIMHD, Dee (dan Bark Communication), Iwan Fals (dan Musica)
telah memberi contoh bahwa dialog adalah jalan terbaik dalam
menyelesaikan perbedaan.
FIMHD
tidak dapat disalahkan karena mereka mengajukan sesuatu yang
mereka yakini sebagai kebenaran, harus ada yang mengambil
peran ini agar masyarakat juga tahu apa yang seharusnya mereka
tahu. Selain itu FIMHD bisa dikatakan telah meng-exercise
kebebasan mengeluarkan pendapat dengan prosedur yang baik
(walaupun mungkin sebaiknya dialog dulu dengan pihak yang
bersangkutan sebelum dibawa ke forum umum dan media massa).
Dee
dan Iwan Fals juga mempunyai hak untuk mengekspresikan karya
dan rasa mereka, namun cukup bijak juga kalau mereka sebelumnya
berkonsultasi dengan pihak yang mengerti mengingat mereka
menggunakan bagian yang bukan murni karya mereka, apalagi
berkaitan dengan simbol agama. Parisadha Hindu Dharma
Indonesia (PHDI) sebagai badan tertinggi umat Hindu
di Indonesia sudah mengeluarkan himbauan untuk berkonsultasi
dengan mereka apabila ada keinginan atau keraguan dalam menggunakan
simbol-simbol agama Hindu.
Sebagai
penutup, saya selaku pribadi lebih melihat kasus Dee dan Iwan
Fals ini sebagai cermin dari realita di dunia; tiap kepala
punya pendapat dan pemikiran sendiri. Itulah mengapa dialog
perlu, bukan senjata dan tinju.
---0---
Catatan:
1.
Tulisan
ini bukanlah
bertujuan untuk mengungkit-ungkit siapa yang salah maupun siapa
yang benar tapi lebih menitikberatkan
pada betapa pentingya ruang dialog dalam banyak aspek kehidupan
(termasuk budaya dan agama) mengingat beragamnya tingkat pemahaman
dan interpretasi terhadap berbagai macam topik di masyarakat.
2.
Pendapat dalam tulisan ini
adalah pendapat
pribadi, bukan mewakili keseluruhan pemeluk Hindu.
|