beranda.net logo

beranda > artikel > tambah umur


Tambah Umur

D. Manggala (1 Oktober 2004)

"Tua-tua keladi, makin tua makin jadi" (sebuah peribahasa lama)

Satu hal yang tak terbayangkan ketika kita masih kecil atau remaja adalah betapa susahnya menjadi tua. Apalagi ketika kita masih di SMU atau di bangku kuliah, rasanya kita ini adalah makhluk immortal; atau istilah anak sekarang: "ngga ada matinye!"

Hal pertama yang paling terasa ketika umur kita sudah "lumayan" adalah cara berpikir. Setiap keputusan yang agak penting, pastilah memerlukan proses berpikir yang sangaaaaaaa...aat panjang. Hal-hal yang berhubungan dengan karir (misalnya mau cari kerja lagi tau ngga) mendominasi hari-hari kita. Ketika umur kita bertambah, makin bertambah pula kecenderungan kita untuk over-analyze. Kalau waktu kuliah, punya uang lebih dikit kita langsung cabut ke mana gitu, naah..sekarang uang ada lebih rada lumayan malah membuat kita merasa kurang terus (karena kita harus menabung untuk masa depan: kawin, rumah, mobil, pendidikan anak-anak,dll). Some say, that's called "being wiser"; others say, that's called "being rusted."

Urusan cinta juga tak kalah beda. Kalau dulu, yang penting cakep (dan juga mau) maka let's go.......Nah, ketika umur bertambah, kita mulai memperhitungkan faktor-faktor 'teknis' yang kita kenal dengan nama SARA. Urusan cinta, jika umur sudah bertambah, tidak lagi berbunga-bunga dan spontan, melainkan perlu sedikit usaha tambahan untuk memastikan tidak ada hal -hal' teknis' tersebut yang akan mengagalkan hubungan nantinya. Urusan cinta bukan lagi urusan "aku dan doi" aja, tapi melibatkan dua keluarga kita. Bener loh...

Belum lagi kalau memperhitungkan faktor ekonomi. Jika umur lewat angka 27 (angka diambil dari data empiris, alias asal nyomot aja) urusan cinta juga memerlukan pengetahuan yang cukup di bidang finansial, kalau bisa ada pro forma finansial statement-nya. Berapa market value-nya di masa datang: kalau sekarang kere, tapi ada prospek cerah di masa depan..yaa bolehlah. Kalau sekarang kaya, masa depan ngga jelas..yaaa...masih bisa dipertimbangkan laaah hahahaha....Pasti banyak yang menyangkal, tapi coba deh diinget-inget dengan seksama...bener apa ngga?? .Hehehe....oke cukup segitu untuk masalah cinta, ntar pada protes lagee...:)

Please, don't get me wrong...I'm not that old. I'm JUST 31 old (huh?)....at the moment have a job. I pay my own bills, if you know what I mean hahaha....;)

Masalahnya adalah, tiap dua kali seminggu aku main basket dengan teman-teman pencinta basket, dimana belakangan ini hampir 60% pemainnya adalah anak-anak SMU. Playing with them make me feel like retarded. Kecepatan, stamina dan spontanitas berekspresi mereka membuat aku merasa seperti berumur 70! Mau ngumpat bilang #%^&#@ aja mesti mikir..:) Padahal, baru kemarin rasanya gerakan kita secepat mereka...melakukan berbagai gerakan dramatis tanpa khawatir cedera...rasanya saya belum berubah sama sekali..tapi kenapa aku ga bisa lariiii........

Sebenarnya itu semua menandakan bahwa kita memang selalu berevolusi. Mind, body, and soul...semuanya tumbuh..ketika badan mulai melemah, harusnya pikiran dan jiwa kita bertambah kuat (harusnyaaa... menurut teori gitu).

Tapi memang ada saatnya kita berada di persimpangan; bingung mau ngapain.. Rasanya hidup ini berat sekali...

Btw, this is not a suicide letter, ok? Ini namanya introspeksi....;)

Kata seorang teman, harusnya dijalani saja...let it flow; let it go.

"Time is a good friend of us; it makes us old." (Simone de Beauvoir)

ps. Thanks buat teman-teman di Pittsburgh (Joe, Fabian, Devina, Ira, Ranti, Helena, Suryo, Pasek, Yos, Anti, Andi, Reza, dan Andi lagi...atas kartu ultah dan hadiah mesin penunjuk waktu-nya (it's so cool,dude!)