|
Think!
D. Manggala (5 Pebruari 2005)
Kenapa Amerika jauh lebih maju dari Indonesia?
Ok, sebelumnya perlu saya tegaskan dulu bahwa yang saya maksud
"Amerika" adalah negara Amerika Serikat (a.k.a USA)
karena kalau tidak dijelaskan dulu, pasti banyak teman saya
yang akan protes kalau saya hanya menyebutkan Amerika saja
untuk menyebut USA, karena menurut teman saya: Mexico
dan Kanada kan juga ada di "Amerika".
Kembali ke pertanyaan " Kenapa Amerika jauh lebih maju
dari Indonesia?" sebenarnya ini adalah salah satu topik
favorit saya dan teman-teman kalau lagi "cakap-cakap
bohong" disela-sela percakapan serius seperti seks, gosip
selebriti dan menentukan tempat makan malam.Biasanya topik
ini dibicarakan pada jam makan malam, tepatnya lagi pada saat
menunggu makanan dipesan maupun setelah selesai menyantap
makanan.
Salah satu momen yang cukup intens membicarakan topik ini
saat bersama kawan Soeryo dan Pasek setiap Sabtu malam kalau
kita makan di restoran Korea di daerah Oakland Ave, sekitar
University of
Pittsburgh atau UPitt. Pemicunya, lantaran setiap kita
berjalan dari tempat turun bis menuju Korea Garden (itu nama
restorannya) kita akan melewati salah satu apartemen anak-anak
UPitt yang didepan apartemennya terpasang spanduk yang kira-kira
menerangkan itu adalah perwakilan mahasiswa untuk acara "Blood
Donor". Yang menarik perhatian kita adalah kegiatan mahasiswa
tersebut setiap Sabtu tak lain tak bukan adalah let's-get
drunk-till-morning-kind-of-party...:) Ciri khasnya adalah
campuran minuman yang disiapkan dalam semacam gentong raksasa
diminum dari selang plastik yang tergantung dan diminum seperti
anak-anak di acara 17 Agustus-an ikut lomba makan kerupuk.
Kita cuma bisa komentar: what the h....? Biasanya kawan Soeryo
akan mengomentari betapa ancurnya perilaku anak-anak undergrad
itu...sambil diakhiri dengan "yang gua tau anak-anak
undergrad di amerika rata-rata kelakuannya kayak gini kenapa
masih jauh lebih maju dibanding negara kita ya?" Argumen
kawan ini adalah bahwa kelakuan mahasiswa kita di Indonesia
mungkin tidak ancur-ancur banget atau minimal tingkat ancurnya
sama aja. Jadi minimal harusnya kita udah cepet mengejar negara
adidaya itu.
Sohib lain yang menjadi partner dalam membicarakan topik
ini adalah Indra alias Obhenx (harus pake X, bukan K). Kalau
mas kita ini berargumentasi bahwa negara kita jauh ketinggalan
dari Amerika (dan negara-negara lain) disebabkan karena orang
Indonesia terutama yang duduk di kursi pemerintahan, pada
umumnya tidak tahu bagaimana menyusun skala prioritas. Secara
lugas Obhenx mengatakan bahwa kita "suka membesarkan
hal-hal yang kecil (kayak goyangnya Inul) tapi menyepelekan
hal-hal mahapenting seperti KORUPSI!" Kira-kira summary
dari argumentasi Mas Indra ini sama dengan tulisan Jakob Sumardjo
tentang "paradoks manusia Indonesia" bahwa orang
Indonesia paling rajin MEMBICARAKAN hal-hal religius tapi
untuk bagian MELAKUKAN, kita malah lebih sering melanggar
norma-norma agama. Berhubung diskusi diadakan setelah makan
sambel pete, tidaklah sempat pembicaraan serius itu kita jadikan
paper ilmiah.
Muli (ternyata, nama aslinya adalah Bonge), dalam pembicaraan
panjang di Santa Monica mempunyai teori lokomotif untuk menerangkan
kemajuan Amerika; bahwa negara Paman Sam itu bisa dilihat
sebagai suatu gerbong panjang yang isinya orang awam yang
kemampuannya kurang lebih sama dengan masyarakat kita, ditarik
oleh sebuah lokomotif super yang didalamnya berkumpul manusia-manusia
super cerdas yang populasinya hanya sebagian kecil sekali
dari rakyat Amerika. Inti dari kesuksesan lokomotif super
itu adalah bagaimana menarik orang-orang cerdas agar menetap
disana.
Kawan sekantor saya, Donny K, juga mengungkapkan pertanyaan
yang sama setelah menonton film-film favorit seperti "Mean
Girls" atau "American Wedding" atau melihat
thriller "Spring Breaks" dengan setting di Cancun..;)
Kalau anak mudanya pada kayak gitu, kenapa masih maju aja
tuh negara? (Tapi kan TV tidak menggambarkan kenyataan sebenarnya
ya?)
Mitra online saya Bang Artur, lebih melihat kekurangan kita
akibat belum meratanya pendidikan secara umum terhadap masyarakat
Indonesia. Pendidikan baru mencapai sebagian kecil masyarakat
saja, baru di perkotaan dan sebagian besar Jawa dan Bali.
Kuncinya adalah pendidikan yang merata, kalau ngga salah begitu
kata doi.
Tapi, seperti kata Muli....apa ngga bisa ya segelintir orang-orang
terdidik membawa bangsa ini maju setapak demi setapak dengan
lebih konsisten? Kita punya banyak lho tokoh dengan kemampuan
individu yang benar-benar ok!!
Mungkin kita harus berpikir keras mencari dimana letak missing
link antara kemampuan individu putra-putri Indonesia dengan
kinerja kita dalam organisasi besar bernama Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Apakah benar bahwa kecerdasan bangsa kita
(maksudnya collective intelligent nih) memang rendah sekali?
Kita punya banyak cerdik pandai, lulusan Harvard, Yale, Berkeley,
MIT... doktor dan master lulusan Jerman, Perancis, Jepang,
Australia...para sarjana lulusan UI, ITB, UGM, IPB, ITS,...
Kalau kita kenal dengan tokoh-tokoh penting Indonesia, tidak
bisa tidak, kita akan hormat karena kemampuan intelektual
dan personal-nya sangatlah bagus. Di lingkungan kerja, kita
punya banyak atasan yang sangat cemerlang....di kampus kita
punya banyak dosen-dosen muda idealis dan cerdas....tokoh-tokoh
itu karena kapasitasnya yang sangat bagus...sering dijadikan
staf ahli Menteri...Dirjen...Menteri, bahkan menjadi anggota
DPR! Tapi lihatlah bagaimana kelakuan tokoh-tokoh itu sebagai
sebuah institusi? "Seperti anak TK" kata Gus Dur
beberapa tahun lalu, namun masih valid sampai sekarang. Tentu
saja DPR bukan satu-satunya lembaga dengan kinerja seperti
itu.
Karena itu, mari kita berpikir! :)
|