|
Judul: The Tipping Point: How
Little Things Can Make a Big Difference
Pengarang: Malcolm Gladwell
The Tipping Point: Buku Yang Susah
Dilepaskan!
D. Manggala (9 April 2005)
"Ingat, bahkan buku
yang best seller hanya dibaca oleh kurang dari 1% masyarakat
Amerika" - Malcolm Gladwell (dikutip dari Majalah
Swa 31 Maret-13 April).
Bermula dari Majalah Swa
yang menyebut Malcolm Gladwell sebagai seorang
"Peter Drucker Abad ke-21"saya
lalu tertarik untuk membaca buku Mas Gladwell yang berjudul
The Tipping Point, yang menurut Swa banyak
membuat heboh dunia marketing. Setelah membaca buku itu dalam
tempo sekitar lima hari, kesimpulan saya adalah...
The Tipping Point
bukanlah buku tentang marketing saja! Ini buku tentang banyak
hal yang [mungkin] membantu kita memahami fenomena sosial
seperti gosip, trend, kejahatan, dan...KORUPSI.
Terus terang saja saya demen
banget dan terinspirasi oleh buku ini, walaupun tampaknya
saya sangat ketinggalan jaman....karena buku ini sudah beredar
sejak tahun 2000...(kemana aja sih gue??)
Tipping Point
adalah sebuah momen ajaib ketika ide, tren, atau perilaku
sosial melwati suatu garis, bergulir dan lalu tiba-tiba meledak,
meluas seperti kebakaran hutan.
Btw, doi mengakui kok bahwa
teori tipping point ini bukan ide orisinilnya, ada orang lain,
Thomas Schelling, yang pertama menyebut-nyebut teori ini.
Kenapa buku ini
menjadi inspirasi pada para marketer tentu saja mudah dipahami
karena Gladwell dengan gamblang menjelaskan fenomena bagaimana
trend bisa terjadi; misalnya dengan contohnya tentang sepatu
Hush Puppies.
Sekitar awal tahun 90-an,
merek sepatu Hush Puppies sudah lama hampir
mati, tidak banyak dikenal dan hanya dijual di toko-toko di
kota kecil di Amerika. Intinya, Hush Puppies udah dianggap
ngga keren deh. Nah, di satu titik di akhir 94-awal 95 tiba-tiba
terjadi ledakan permintaan sepatu merek tersebut yang akhirnya
membuat pabrik sepatu ini bangkit lagi dan bisa kembali ke
masa kejayaannya terjual di mall-mall ternama. Apakah yang
terjadi?
Ternyata gara-garanya
hanya karena Isaac Mizrahi (desainer kondang
dari kota New York, sering disebut-sebut
di film Sex & the City, kalo ngga salah)
make itu sepatu sekitar akhir tahun 94, dan tiba-tiba aja
orang-orang NY mikir itu sepatu keren en cool banget... padahal
si Isaac make sepatu itu karena (sebagai desainer) doi pengen
tampil beda...tapi karena dia adalah tokoh mode yang dianggap
keren, maka orang-orang juga pengen tampil kayak dia...maka
terjadilah penularan "trend" dari segelintir orang
menjadi ribuan orang menjadi jutaan orang....!! Persis kayak
flu, kayak AIDS, kayak kriminalitas...dan itu adalah semuanya
gejala epidemi.Mungkin persis kayak jaman rambut cewe yang
kena wabah Korban Demi Moore sekitar tahun 90-an...:)
Kira-kira demikian uraian
panjang si Gladwell ini dalam buku tersebut. Bagi banyak orang
mungkin idenya biasa-biasa aja, tapi bagi saya buku ini luar
biasa.
Pertama, buku ini memuat
banyak sekali detail angka yang pasti perlu riset lumayan
namun tetap disajikan dengan enak dan mengalir, bahkan sulit
melepas buku ini.
Kedua, yang lebih penting,
buku ini membuat kita berpikir tentang bagaimana kita bisa
"membikin" tipping point di lingkungan kita, persis
seperti cerita bagaimana kota NY yang tadinya sangar penuh
tembak-tembakan tiba-tiba menjadi jauuh lebih aman.
Di tahun 92 terjadi 2514
pembunuhan di kota New York dan 626182 kejahatan serius. Lalu
terjadi sesuatu yang aneh. Pada satu titik yang misterius,
terjadi penurunan jumlah pembunuhan sampai 64.3% dan kejahatan
serius turun setengahnya. Apa yang terjadi?
Salah satu teori yang
bisa menjelaskan, menurut Gladwell, kemungkinan berhubungan
dengan apa yang disebut Broken Glass Theory.
Teori kaca pecah
ini mengatakan bahwa kalau ada bangunan dengan satu kaca yang
pecah, maka akan ada kesan bahwa bangunan ini tidak berpenghuni
dan tidak ada yang mengurus. Nah, dalam waktu yang tidak lama
lagi pasti kaca-kaca lain akan pecah juga (karena orang tidak
takut utk merusak bangunan itu...wong ngga ada yang ngurus)
dan makin lama orang makin berani untuk mencoreti ataupun
merusak. Kalau keadaan ini dibiarkan terus, maka orang akan
makin biasa dengan situasi tak terkontrol di lingkungan itu
dan jalanan di sekitar bangunan itu pasti akan sama kotor
dan berantakannya..demikian situasi ini akan meluas dan menular
kemana-mana dilingkungan sekitarnya.
Teori inilah yang kemudian
dibalikkan situasinya dan digunakan sebagai dasar mengurangi
kejahatan di kota NY. Pertama subway (kereta bawah tanah)
yang tadinya kotor dan penuh coretan (grafiti) dibersihkan.
Subway yang kotor dan tak terawat akan menimbulkan kesan tak
ada yang mengurus dan tidak ada yang menjaga. Jadi orangpun
bebas malakin orang, ngerampok, dll. Begitu subway bersih,
orang mulai ragu-ragu utk melakukan kejahatan. Apalagi ketika
kejahatan-kejahatan "kecil" seperti malakin orang
mulai diberantas dengan konsisten. Makin lama kesan bahwa
kota NY tidak aman dan tidak terurus makin menghilang dan
akhirnya kejahatan yang lebih besar seperti pembunuhan secara
drastis menurun!!
Sekarang kita bayangkan kondisi
negara kita...mulai dari Jakarta. Kenapa Jakarta? Karena ini
kota pusat segala-galanya di Indonesia. Lebih dari 50% duit
beredar di kota ini..dia juga ibukota negara, juga pusat mode,
pusat hiburan, dan lain-lain..kondisi biskota yang tak terawat
dan kotor bikin copet merasa aman utk beroperasi..kejahatan
kecil macam pak ogah di tikungan, polisi prit jigo, tukang
palak di stasiun...dibiarkan merajalela..Karena kejahatan
kecil-kecil dibiarkan maka orang beramai-ramai berbuat kejahatan
di lingkungan masing-masing, mulai dari malakin anak SMP,
ngembat dana bantuan banjir sampai nilep uang beras jutaan
ton. Dengan demikian kota Jakarta terkesan seperti rimba yang
bebas hukum, warganya selalu dalam keadaan "siap tempur"
karena merasa tidak aman dan kejahatan ada dimana-mana..selalu
mengancam...bawaan jadi curiga, tidak percaya orang...sikap
ini dibawa ke kantor, gedung DPR, istana Presiden, dll...akhirnya
banyak persoalan tidak pernah beres..udah hampir 60 tahun
merdeka tapi ngga maju-maju. Jadi kita mungkin bisa berteori,
bahwa situasi yang serba kacau bisa bergulir dari sikap kita
membiarkan hal yang remeh-remeh tak tertangani. Saya jadi
mikir-mikir, apa ya yang terjadi kalau gurbernur Jakarta habis-habisan
fokus ke satu hal yakni membuat fasilitas umum lebih bersih
dan dikasi penerangan semuanya...terutama bis kota, terminal,
dan halte bis ..apakah bisa menjadi the tipping point untuk
negara kita menjadi lebih sejahtera dan aman?
Nah, begitulah...Kang Gladwell
telah bikin saya menghayal kemana-mana...sampai jadi lupa
bahwa beliau secara garis besar punya tiga teori besar tentang
hal yang berpengaruh akan "penularan" ide, aksi
ataupun penyakit: The Law of The Few (ada
tiga jenis orang yang bikin sesuatu cepat menular yang disebut
Connectors, Mavens, dan Salesman),
The Stickiness Factor, dan The Power
of Context. Mengenai teori-teori ini baca sendiri
bukunya ya...ntar reviewnya kepanjangan...emang pada baca
sampai segini panjang..:)
Oh ya, btw, mengenai tular-menular
ini, saya juga jadi inget isi sebuah buku yang dikarang oleh
Daniel Goleman (yang ngarang buku Emotional Intelligence)
yang mengatakan bahwa otak manusia punya sesuatu yang disebut
open loop system. Inilah yang bikin kita sangat mudah tertular...
Contohnya kalau kita ketemu
orang yang tersenyum dengan tulus, mood kita akan ikut naik...sebaliknya
kalau ketemu orang cemberut, kita juga ikut-ikutan bete. Kalau
kita secara tak sengaja mendendangkan lagi "Ada Apaaa
Denganmuu.." paling tidak ada teman kita yang ikut tertular
nyanyi lagu itu..Betul ngga? Makanya, kata Pak Goleman, sebaiknya
kita selalu bersikap positif dan rajin menebar senyum....(buku
Pak Goleman akan dibahas di tulisan berikutnya).
|