D. Manggala (8 Mei, 2005)
Beberapa
waktu lalu saya mendapat pertanyaan mengenai arti black
belt dalam six sigma. Selain itu banyak juga yang menanyakan
apa beda black belt dan green belt yang akhirnya menginspirasikan
saya untuk menulis artikel ini.Secara
bercanda seorang teman saya mengatakan beda dua istilah
tersebut adalah: "kalau black belt terjemahannya sabuk
item, green belt terjemahannya kolor ijo"...
Untuk
itu saya akan coba menuliskan disini tentang kedua istilah
tersebut, namun saya akan lebih banyak mengulas tentang
black belt disini, karena posisi inilah aktor utama dalam
implementasi six sigma, dimana istilah green belt muncul
belakangan.
Black
Belt
Istilah
ini memang diambil dari ilmu bela diri (karate). Konon,
diawal pematangan konsep six sigma di Motorola, para pembuat
konsepnya ingin mencari istilah yang catchy, enak
di dengar, mudah diingat, serta yang terpenting bisa mewakili
karatkteristik untuk orang yang ditugaskan memimpin suatu
usaha perbaikan proses. Karakteristik itu antara lain bahwa
orang tersebut harus memiliki pengetahuan dan keterampilan
dalam menggunakan metode statistik dan analitis, memiliki
pemahaman akan proses dan bisnis di tempat ia bekerja, memahami
project management, mempunyai skill kepemimpinan
yang kuat serta punya fire in the belly (alias
semangat 45) untuk melakukan perbaikan.
Nah,
dari sekian banyak istilah, akhirnya dipilih istilah Black
Belt untuk mewakili karakteristik tersebut; seorang pemegang
sabuk hitam dalam karate biasanya dianggap sudah cukup mahir
dalam beladiri serta matang dalam personality termasuk dalam
memimpin dan melatih yuniornya.
Dalam
implementasi six sigma, seorang (atau lebih) black belt
adalah ujung tombak dalam melakukan perbaikan. Ia adalah
pemimpin tim yang ditugaskan dalam melakukan peningkatan
efisiensi dan efektivitas bisnis.
Untuk
menjadi seorang black belt, seorang kandidat biasanya menempuh
antara 3 sampai 4 minggu training six sigma serta menyelesaikan
satu atau lebih proyek perbaikan proses. Yang menjadi sumber
kebingungan adalah dalam prakteknya terjadi perbedaan antara
satu perusahaan dan perusahaan lain:
-
ada yang mensyaratkan seorang black belt hanya perlu satu
proyek sebelum disertifikasi ada yang mensyaratkan minimal
dua proyek.
-
ada yang mensyaratkan suatu target/syarat minimum saving/benefit
(misalnya minimum US$ 150,000/proyek) ada yang menetapkan
target berbeda
-
ada yang mengharuskan ujian/examination untuk sertifikasi
setelah training (selain menyelesaikan proyek) ada juga
yang tanpa ujian.
-
ada yang mengharuskan black belt harus bekerja full time
untuk quality project, ada yang hanya part time.
Demikian
perbedaan dalam implementasi yang saya ketahui, mungkin
ada juga perbedaan lain yang para pembaca ketahui.
Idealnya,
memang seorang black belt mestinya harus bekerja full time
untuk proyek-proyek perbaikan proses. Kenapa? Karena kalau
seorang black belt hanya part time, dapat dipastikan bahwa
tugas rutin sehari-harinyalah yang akan lebih banyak menyita
waktu sehingga tugas di bidang quality akan terlupakan :)
Ini salah satu penyebab utama kegagalan implementasi six
sigma...
Berbagai
referensi yang saya kutip disini rata-rata merekomendasikan
agar black belt ditugaskan sebagai jabatan yang full time
dalam kurun waktu sekitar 2 tahun (atinya selama masa tersebut
100% waktunya didedikasikam untuk proyek six sigma).Untuk
itu, perusahaan tersebut juga harus menyiapkan jalur karir
yang sesuai setelah masa kerja tersebut berakhir sesuai
dengan prestasi yang diraihnya.
Black
belt memegang peranan penting dalam keberhasilan suatu proyek
six sigma karena ia-lah pemimpin tim yang terdiri dari beberapa
green belt ataupun anggota lain seperti operator, teknisi,
customer service, dan lain-lain. Juga seorang black belt
diharuskan "menyingsingkan lengan bajunya" untuk
terjun langsung untuk mengumpulkan data, menganalisa ataupun
melakukan perubahan yang direkomendasikan.
Jadi walaupun ada perbedaan terhadap persyaratan dan karakteristik
kerja (full time vs. part time) untuk black belt di berbagai
organisasi/perusahaan, tanggung jawab dan tugas black belt
pada umumnya hampir serupa.
Roger
Hoerl dalam artikel yang dimuat di Journal of Quality
Technology Vol. 33, No. 4, October 2001, merekomendasikan
suatu acuan 'kurikulum' untuk menjadi seorang black belt.
Tujuannya adalah agar ada standar yang seragam dalam penyebutan
istilah black belt ini; namun sejak artikel itu dipublikasikan
sampai tahun 2005 ini prbedaan implementasi dan training
masih sangat tergantung dari kebijakan di tiap-tiap perusahaan.
Jadi perbedaan disana-sini ya masih ada (dan saya kira wajar-wajar
saja).
Green
Belt
Penggunaan
istilah green belt tampaknya hanya merupakan kelanjutan
analogi dari tingkatan ilmu bela diri. Dari black belt,
lalu dipilih istilah green belt untuk mewakili posisi yang
sedikit dibawah black belt.
Pada
umumnya, perbedaan paling besar antara black belt dan green
belt adalah pada waktu yang didedikasikan untuk proyek six
sigma. Kalau black belt adalah full time, green belt adalah
part time. Misalnya, ada suatu proyek six sigma di department
finance; seorang green belt mungkin separuh waktunya didedikasikan
untuk proyek six sigma, sebagian waktu yang lain masih digunakan
untuk melakukan tugas rutin sehari-hari (misalnya memproses
invoice).
Bagaimana
jika suatu perusahaan tidak mempunyai full-time black belt?
Pada perusahaan seperti ini, biasanya black belt dan green
belt dibedakan dalam lama training yang diikuti (green belt
sekitar 2 minggu, black belt > 3 minggu) serta jumlah
proyek atau target saving/benefit yang disyaratkan.
Untuk
keterangan lebih lengkap, bisa dibaca berbagai buku six
sigma (rekomendasi saya adalah buku/artikel di bagian referensi).
Referensi
Breyfogle
III, Forrest W. Implementing Six Sigma 2nd edition. Wiley,
2003: p.999-1000.
Gitlow,
Ph.D.,Howard S., and David M Levine, Ph.D. Six Sigma
for Green Belts and Champions. Prentice Hall, 2005:
p. 27-30.
Hoerl,
Roger W. "Six Sigma Black Belts: What Do They Need
to Know?" Journal of Quality Technology Vol.
33, No. 4, October 2001.