D. Manggala (10 April 2005)
Istilah Lean Production di cetuskan oleh
sebuah tim dari MIT untuk menggambarkan
apa yang sebelumnya dikenal dengan nama Toyota Production
System. Tim yang berbasis di MIT tersebut adalah
International Motor Vehicle Program (IMVP) dimana
hasil riset mereka selama 5 tahun di akhir tahun 80-an disajikan
dalam sebuah buku yang berjudul The Machine That
Changed The World.
Buku ini secara komprehensif menceritakan sejarah industri
mobil serta perkembangan sistem produksinya dari Craft
Production di awal tahun 1900-an (ketika mobil
baru diproduksi satu persatu seperti barang seni), kemudian
Henry Ford memperkenalkan Mass
Production di tahun 1914, pertama kalinya
konsep produksi mobil secara masal diperkenalkan, dimana
Alfred Sloan lalu menyempurnakan sistem ini
sejak 1920 di General Motors. Setelah sekian
lama bertahan dengan sistem produksi yang cukup ampuh buat
industri manufaktur mobil di Amerika untuk menguasai dunia,
tanpa disadari oleh industri mobil Barat, Toyota
telah merintis sistem yang sama sekali berbeda yang oleh
tim IMVP disebut sebagai Lean Production.
Dibandingankan dengan Mass Production, Lean Production
memerlukan 1/2 dari usaha manusia di pabrik, 1/2 ruang pabrik,
1/2 investasi peralatan, 1/2 waktu engineering, dan 1/2
waktu yang diperlukan untuk meluncurkan produk baru.
Hal inilah yang diakhir tahun 80-an para manajer pabrik
manufaktur di Amerika tidak bisa menerima "ramalan
tersebut" karena bagi orang-orang yang berkecimpung
sekian lama dalam sistem Mass Production pasti akan berpikir
"tidak mungkin menghasilkan produk yang lebih baik
dalam waktu yang lebih cepat dan biaya lebih murah."
Paradigma lama mengatakan bahwa "produk yang lebih
baik pasti memerlukan waktu yang lebih lama dan biaya lebih
tinggi."
Toyota dan pabrik mobil Jepang lainnya membuktikan itu
salah.
Dengan studi yang mendalam pada sistem Mass Production,
Toyota memikirkan sistem baru yang sama sekali memiliki
paradigma yang berbeda dengan sistem produksi masal. Prinsip
Lean Production meliputi "kerjasama tim, komunikasi,
penggunaan sumber daya secara efisien, penghilangan Muda/Waste,
dan perbaikan secara kontinyu."
Tampak gampang dalam teori, tapi sangat berat dalam realita
karena sampai sekarang banyak perusahaan termasuk perusahaan-perusahaan
manufaktur terkemuka masih berusaha keras menerapkan Lean
Production ini.
Kalau kita pelajari dari sejarah lahirnya Lean ini, maka
tampak jelas bahwa budaya Jepang yang cenderung kolektif
dan sangat disiplin merupakan salah satu faktor utama dalam
konep ini. Ditambah budaya mereka yang sangat menjunjung
tinggi usaha menuju perfection, maka tidak heran jika konsep
ini sangat berhasil diterapkan di Jepang.
Salah satu contoh bagaimana revolusioner-nya sistem produksi
Toyota adalah dengan memberikan otorisasi bagi tiap pekerja
di pabrik untuk menghentikan assembly line kalau menemukan
cacat dalam produk yang sedang ia tangani atau baru diterima
dari orang sebelumnya. Sistem yang tentu saja sangat revolusioner
dan pada awalnya pasti merupakan gangguan besar (karena
tiap saat produksi terhenti) ternyata dalam jangka panjang
mampu memberikan keuntungan bagi Toyota karena dengan demikian
produk yang dihasilkan akan menghasilkan hampir 100% produk
bebas cacat tanpa melalui proses inspeksi di akhir. Ini
berbeda jauh dengan konsep barat (pada waktu itu) yang cenderung
fokus pada kesinambungan produksi dan membiarkan produk
jelek diteruskan kepada proses selanjutnya. Sistem produksi
massal menggantungkan kualitas akhir produk pada inspeksi
yang dilakukan para ahli pada step terakhir dari produksi.
Yang belum mereka sadari pada saat itu adalah setiap cacat
yang diteruskan kepada proses selanjutnya akan menimbulkan
multiplication effect serta inspeksi di akhir memerlukan
waktu yang panjang untuk menemukan kesalahan. Tak heran
banyak produk yang masih cacat masih ditemukan dalam mobil-mobil
yang dikeluarkan produsen Amerika dan Eropa.
Setelah hampir 15 tahun konsep Lean di sebarluaskan dimana
segala usaha pengurangan Muda/Waste menjadi topik utama
di dunia manufaktur: mulai dari pengurangan inventori, pengurangan
transportasi, pengurangan gerakan yang berlebihan, menghilangkan
waktu tunggu, penghilangan kerja ulang, dan berbagai pengurangan
lainnya, konsep Lean menjadi tersebar luas bukan hanya di
dunia manufaktur mobil. Dell dan Wal
Mart disebut-sebut telah menjadi master di bidang
Lean ini dengan menyempurnakan operasinya bertumpu pada
lean supply chain. Berbagai industri di luar manufaktur
dan retail juga sudah menerapkan Lean Production ini, sehingga
konsep Just In Time (JIT) dan
Kanban bukan lagi menjadi bahan
pembicaraan di pabrik saja.
Konsep Lean belakangan ini telah menjadi salah satu dari
topik utama dalam dunia Operation Management
dan Supply Chain Management termasuk
dengan mulai dijodohkannya Lean dengan
celebrity lain yakni Six Sigma dengan mulai
munculnya istilah Lean Six Sigma atau Lean
Sigma. Namun ditengah gencarnya usaha para manajer
menerapkan Lean di perusahaan masing-masing, muncul pertanyaan,
apakah ada pemikiran lain yang semakin menyempurnakan usaha
efisiensi dalam menjalankan operasi? Jawabannya ada pada
istilah yang disebut Lean Consumption.
(bersambung ke bagian 2: Lean Consumption)