D. Manggala (10 April 2005)
Dalam sebuah artikel di Harvard Business Review,
Womack dan Jones mengajukan
sebuah pertanyaan sebagai berikut:"Kalau banyak perusahaan
sudah berhasil membuat sistem produksinya menjadi sangat
efisien dan menghasilkan produk yang nyaris bebas cacat,
mengapa banyak sekali pelanggan yang frustrasi setelah membeli
produk atau jasa? Mengapa pelanggan masih mengeluarkan banyak
waktu untuk mendatangi atau menelpon customer center?"
Artikel yang merupakan sari dari buku mereka berikutnya
mengajukan sebuah proposisi yang menyatakan apabila sebuah
perusahaan membantu pelanggannya menggunakan produk dan
jasa mereka lebih baik, maka kedua pihak akan berada pada
posisi yang sama-sama menguntungkan. Contohnya adalah bagaimana
Fujitsu menganalisa problem pada pelanggan
mereka. Sebuah perusahan jasa pelayanan penerbangan yang
mengkontrak-out kan IT helpdesk nya pada Fujitsu, mendapatkan
data kerusakan printer hampir 26% dari seluruh laporan kepada
helpdesk. Problem dilaporkan karena butuh terlalu lama untuk
menunggu kedatangan teknisi untuk memperbaiki printer yang
rusak tersebut. Masalah ini menjadi penting karena printer
ini digunakan untuk mencetak tiket, sehingga printer adalah
salah satu alat utama di perusahaan tersebut.
Alih-alih berpikir bagaimana mencari solusi untuk mempercepat
kedatangan teknisi atau memperbanyak jumlah teknisi, Fujitsu
memfokuskan solusinya untuk mencari root cause
dari problem tersebut; jawabanyya adalah meyakinkan pelanggannya
untuk mengganti printer yang lebih cocok dengan penggunaan
perusahaan tersebut. Hasilnya, laporan karena kerusakan
printer turun 80% dalam 18 bulan.
Inti dari konsep Lean Consumption ini adalah bagaimana
sebuah perusahaan bisa mebuat suatu sistem yang bisa membantu
konsumennya memilih dan menggunakan produk yang tepat yang
sesuai dengan keinginan dan keperluan.
Di era informasi sekarang ini, kita semua mengalami betapa
banyak waktu dan usaha yang kita lakukan untuk melakukan
'penelitian' sebelum membeli sebuah produk atau jasa. Ambillah
misalnya kita ingin membeli sebuah handphone. Kita akan
melakukan survey baik dari internet, majalah, diskusi
dengan teman, maupun mendatangi tempat penjualan hand phone
untuk mendapatkan informasi tentang spesifikasi, fitur,
harga dari berbagai macam handphone lalu mencoba mencocokkan
dengan kebutuhan kita. Setelah riset yang panjang, akhirnya
kita mengambil keputusan, memilih sebuah produk. Tapi apa
yang terjadi? Ternyata kita kebingungan mempelajari cara
penggunaan handphone tersebut; lalu toko yang menjual tidak
banyak membantu kita serta customer center sangat tidak
responsif. Akhirnya kita menyerah dan menggunakan hanpdphone
canggih dan mahal itu pada fitur standarnya saja yakni menelpon
dan mengirim sms...
Nah, kejadian seperti ini bisa terjadi dalam berbagai transaksi..mulai
dari yang kecil-kecil sepertimemilih handphone atau kamera,
tapi bisa juga pada transaksi yang lebih besar seperti pembelian
mobil, rumah, asuransi, investasi maupun pengajuan kredit.
Dengan makin sibuknya orang, dimana mulai banyak pasangan
yang dua-duanya bekerja, maka penyediaan informasi sebelum
dan sesudah pembelian produk dan jasa menjadi salah satu
sumber competitive advantage dari penyedia produk/jasa
dewasa ini.
Menurut Womac dan Jones, prinsip Lean Consumption antara
lain:
1. Pecahkan semua permasalahan pelanggan dengan
memastikan semua produk dan jasa bisa digunakan semuanya.
Bayangkan pelanggan anda membeli komputer lengkap dengan
Wi-Fi Router, PDA, Kamera Digital, dan Printer. Nah, sebagai
penyedia produk dan jasa, mesti mastikan bahwa setiap peralatan
yang dibeli tersebut bisa bekerja serta bisa saling terintegrasi
satu sama lain seperti seharusnya dengan fitur yang maksimal
bisa dijalankan.
2. Jangan membuang waktu pelanggan.
Jika anda penyedia jasa servis mobil, maka kalau anda bisa
menghilangkan proses menunggu pelanggan anda, maka bisnis
anda akan menjadi jauh lebih baik. Bayangkan jika kita ingin
menservis kendaraan kita maka proses yang kita alami mungkin
seperti ini: kita menelpon ke tempat servis untuk bikin
appointment, lalu membawa kendaraan kita ke tempat tersebut.
Disitu kita akan menunggu untuk dilayani. Setelah itu kita
akan menjelaskan berulang-ulang permasalahan kita kepada
teknisinya. Setelah itu kita tinggalkan mobil untuk diservis.
Pada waktu menjemput, sering kita temukan bahwa mobil kita
belum siap sehingga kita harus menunggu lagi termasuk juga
kemungkinan mengantri lagi pada saat akan membayar.
Bayangkan jika kita sebagai penyedia produk dan jasa bisa
memperbaiki proses sehingga pelanggan kita tidak perlu menunggu
lagi...
3. Sediakan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh
pelanggan
Bagaimana kita bisa menyediakan barang-barang yang dibutuhkan
oleh pelanggan, misalnya celana khaki dengn ukuran pinggang
32 dan panjang 30, pada saat pelanggan ingin membelinya?
Bagaimana menyediakan sepatu basket warna merah ukuran 43
pada saat seorang anak ingin membelinya?
4. Sediakan apa yang diperlukan ditempat yang benar-benar
diperlukan oleh pelanggan
Bisakah kita menyediakan servis komputer langsung di rumah
pelanggan? Bisakah kita mengantarkan pesanan tuxedo ke tempat
yang diinginkan pelanggan dengan ukuran yang tepat?
5. Sediakan apa yang yang diperlukan ditempat yang
diperlukan pada waktu yang benar-benar diperlukan oleh pelanggan.
Seringkali keputusan untuk membeli suatu produk atau jasa
tidak dilakukan dengan mendadak namun secara terencana seperti
keputusan untuk membeli rumah atau mobil atau jasa finansial/investasi.
Bagaimana kita bisa membantu pelanggan sejak perencanaan
untuk memilihkan produk dan jasa yang sesuai dengan keinginan
dan kemampuan pelanggan sehingga pada saat yang tepat pelanggan
bisa mendapatkan yang diinginkannya disaat dan tempat yang
tepat?
6. Secara kontinyu tambahkan solusi untuk mengurangi
waktu dan kerumitan yang dialami pelanggan.
Pelanggan kita sekarang ini berlangganan kartu telpon selular
dari perusahaan A, internet dari perusahaan B, televisi
kabel dari perusahaan C. Tantangan sekarang ini adalah bagaimana
kita menawarkan solusi yang terintegrasi kepada pelanggan
untuk mengurangi kerumitan diatas sekaligus mengurangi waktu
yang diperlukan untuk berurusan dengan masing-masing proses.
Menurut Womack dan Jones, tantangan terbesar dari konsep
Lean Consumption ini adalah karena penyedia produk dan jasa
tidak terbiasa melihat total cost dari sisi pelanggan serta
seringkali tidak terbiasa bekerja sama dengan pelanggan
untuk memecahkan masalah pelanggan. Mungkin, banyak juga
perusahaan yang senang kalau pelanggannya "tidak terlalu
mengerti" produk atau jasa yang dipakainya sehingga
para perusahaan bisa "menawarkan" produk yang
mahal yang sebenarnya melebihi kebutuhan pelanggan.
Seperti layaknya konsep Lean Production yang pada awalnya
menimbulkan pandangan sinis ("Apa mungkin, barang dihasilkan
lebih bagus kalau waktu dan harganya dikurangi) begitu juga
dengan Lean Consumption kemungkinan akan tampak counterintuitive
dari segi mendapatkan keuntungan (" Kalau bisa kita
jual produk dan jasa yang lebih mahal, asal pelanggan kita
mau kenapa juga kita mesti mikirin apa produk/jasa kita
benar-benar cocok dan bekerja baik. Yang penting kan dibayar
dan kita untung...).
Tentu saja kita perlu menunggu lima sampa sepuluh tahun
untuk melihat bagaimana Lean Consumption mempengaruhi dunia
bisnis secara keseluruhan seperti Lean Production mempengaruhi
dunia bisnis kita sekarang ini.