D. Manggala (29 Desember, 2005)
Setelah lebih dari 25 tahun Six Sigma
diluncurkan sebagai salah satu metode untuk memperbaiki
kinerja perusahaan, kita melihat perkembangan yang sangat
luar biasa dari konsep ini sehingga sejak tahun 90-an konsep
ini menjadi salah satu konsep utama dalam business improvement
serta menjadi topik majalah-majalah bisnis seperti BusinessWeek
atau Fortune. Namun kita sepertinya perlu
untuk bersama-sama melihat dan melakukan evaluasi dengan
obyektif mengenai Six Sigma dalam implementasinya (serta
persepsi yang menyertainya) karena bagaimanapun tujuan
Six Sigma, sebagaimana metode-metode lain, adalah
untuk menjadikan perusahaan/bisnis kita lebih baik
dan menguntungkan.
Dalam diskusi saya dengan beberapa praktisi Six Sigma,
kami sepakat bahwa dalam perjalanan waktu sampai saat ini,
ada beberapa persepsi keliru dalam implementasi Six Sigma.
Dengan tambahan referensi beberapa artikel terkait dari
majalah Quality Progress ("What's
Wrong With Six Sigma?") dan Quality
Digest ("The Dumbing Down of Six Sigma")
saya membuat semacam analisis sederhana tentang persepsi
keliru dalam implementasi metode ini. Analisis ini cenderung
bersifat reflektif terhadap pengalaman pribadi saya sehingga
mungkin banyak perbedaan dengan orang lain; untuk itu saya
harap ini bisa menjadi bahan diskusi ataupun kritik/komentar
terhadap saya pribadi.
Berikut adalah persepsi keliru dalam Six Sigma menurut
analisis saya:
1.
Implementasi
Six Sigma Harus Menggunakan Analisis Statistik Yang Canggih
SALAH!
Implementasi harus fokus pada tujuan untuk memberikan analisis
yang tepat dan cepat, bukan pada penggunan tools dan
analisis.
Sekali
lagi, tujuan utama implementasi Six Sigma adalah membuat
perusahaan kita bekerja lebih baik dan lebih profitable.
Ya, sesederhana itu. Dalam dunia bisnis, salah satu faktor
penting untuk bisa lebih baik dari pesaing adalah dengan
mengeksekusi suatu rencana dengan cepat, termasuk juga membuat
analisis dan mengambil keputusan dengan cepat.
Dalam
mengimplementasikan Six Sigma dalam bentuk proyek, banyak
Black Belt (BB) yang terdorong untuk melakukan
analisis secara luar biasa kompleks semata-mata karena ia
sudah mempelajari dan menguasai tool-tool dalam
statistik. Banyak BB yang memperlakukan semua proyek atau
permasalahan bisnis sebagai suatu rocket science exercise.
Misalnya melakukan analisis multiple regression
untuk suatu analisis yang cukup menggunakan pareto, misalnya.
Ibaratnya, seringkali BB terdorong untuk menggunakan meriam
untuk membunuh nyamuk, padahal hanya dibutuhkan satu tepukan
tangan.
Tentu
saja ada kasus-kasus yang memang memerlukan analisis yang
kompleks seperti dengan Regression ataupun Design
of Experiment. Biasanya dalam training, kita akan mendapat
contoh kasus yang cukup rumit yang memerlukan analisis seperti
itu. Namun, dalam dunia bisnis yang nyata, seringkali problem
yang ada hanya memerlukan pengumpulan data dan analisis
yang sederhana, dan dibutuhkan dengan sangat cepat. Banyak
terdengar keluhan dari pemimpin-pemimpin bisnis dan CEO
bahwa justru dengan adanya implementasi Six Sigma semua
keputusan dan analisis menjadi lama dan berbelit-belit,
malah ada yang perlu mengumpulkan data saja(!) perlu waktu
selama 3 bulan. Kalau semua analisis penting seperti itu,
bisa dipastikan bisnis kita akan jauh tertinggal dari para
pesaing.
Sebuah
artikel berjudul "Six Sigma Stigma" yang ditulis
oleh Martin Kihn, memberikan sorotan yang sangat tajam terhadap
implementasi Six Sigma sehubungan dengan hal diatas. Argumentasi
Kihn adalah, jika Six Sigma disebut metode yang baik, mengapa
Xerox (yang mengklaim sebagai implementor konsep ini sejak
tahun 80-an) punya kualitas lebih rendah dibanding Canon,
Toshiba, dan HP untuk printer dan copier?
Mengapa Ford yang mengadopsi konsep Six Sigma sejak 1999
masih kalah jauh dari Toyota? Dari negeri kita sendiri,
kita mungkin bisa mencari contoh gampang bagaimana ternyata
implementasi Six Sigma tidak berhubungan langsung dengan
keunggulan kualitas dan finansial perusahaan yang mengimplementasikannya.
Oleh
karena itu, mari kita melakukan review terhadap program
implementasi kita, dan berusaha keras untuk menggunakan
semua tool Six Sigma secara tepat guna sehingga memberikan
kontribusi signifikan kepada perusahaan kita dengan cepat.
(Saya tidak dapat menghilangkan kata "dengan cepat"
di setiap pargaraf karena di jaman kita, "waktu"
telah menjadi salah satu "mata uang baru").
2.
Implementasi
Six Sigma Haruslah Meniru Model Yang Diterapkan Motorola
atau GE
SALAH!
Model
implementasi yang diterapkan oleh Motorola dan GE mungkin
bisa dijadikan contoh atau rujukan, namun kemungkinan
tidak selalu cocok diterapkan di semua perusahaan. Kebutuhan
tiap-tiap perusahaan berbeda-beda, karakter dan budaya perusahaan
berbeda-beda, sehingga implementasi Six Sigma pun semestinya
fleksibel sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, ada perusahaan-perusahaan
yang sudah punya program atau kultur yang kuat disuatu bidang,
misalnya keunggulan dalam project management, maka
ada baiknya implementasi Six Sigma juga dialignkan
dengan kekuatan yang sudah ada.
Implementasi Six Sigma sekali lagi kita tekankan adalah
bagaimana kita menyediakan sumberdaya (orang, waktu, biaya,
dan komitmen) untuk menjawab persoalan paling penting dan
kritikal yang dihadapi oleh sebuah perusahaan. Penggunaan
statistik dan alat-alat analisis lain adalah dalam upaya
kita menerjemahkan "data" menjadi "informasi",
"informasi" menjadi "pengetahuan" sehingga
dengan basis pengetahuan kita bisa mengambil keputusan dengan
tepat dan cepat.
Dengan dasar diatas, maka struktur organisasi dan strategi
implementasi di berbagai perusahaan harusnya sesuai dengan
kultur dan kebutuhan. Tidak semua perusahaan harus menjadikan
Six Sigma sebagai "budaya" perusahaannya. Tentu
saja komitmen dari pemimpin perusahaan adalah sangat penting,
karena itu menentukan dukungan dari semua karyawan dan menjamin
dukungan dana, tapi untuk membentuk suatu departemen khusus
untuk Six Sigma, kemungkinan akan menjadi tugas berat di
berbagai perusahaan. Adalah bagus untuk bisa seperti itu,
tapi jangan menjadikan itu alasan untuk tidak menerapkan
konsep Six Sigma diperusahaan anda. Implementasinya bisa
dilaksanakan oleh Operation Engineer, Project
Engineer, Software Engineer, Finance Analyst,
Marketing Officer, dsb; yang penting mereka telah
mendapatkan training dan pemahaman yang cukup untuk mengimplementasikannya.
Seperti yang telah dijelaskan dalam poin 1. yang penting
adalah para pelaksana bisa memilah penggunaan tools Six
Sigma secara tepat guna dan melaksanakannya dengan cepat.
3.
Implementasi
Six Sigma Adalah Berpusat Pada Training dan Sertifikasi
SALAH!
Walaupun
Training adalah dasar dari pengajaran dan pelatihan metode
Six Sigma serta sertifikasi merupakan sarana penting dalam
membuat semacam standar skill dan kompetensi dari pelaksana
Six Sigma, namun implementasi Six Sigma di suatu perusahaan
yang terlalu menekankan pada orientasi training dan sertifikasi,
lambat laun akan mengalami "pukulan balik" baik
dari pimpinan maupun dari karyawan.
Sering
kali karena adanya fokus yang berlebihan, terutama pada
sertifikasi, karyawan akan melihat implementasi Six Sigma
sebagai peluang untuk mendapat tambahan sertifikasi (apalagi
kebutuhan di bursa kerja juga meningkat). Akibatnya, banyak
proyek Six Sigma akan "diciptakan" hanya untuk
mendapat sertifikat Black Belt, dimana seringkali terjadi
hal yang lebih parah yaitu analisis dilakukan untuk "menjustify
dan mendukung" keputusan atau solusi yang telah diambil
atau diketahui oleh para pelaksana process improvement.
Dalam kerangka waktu dekat, mungkin akan terlihat hal tersebut
sebagai prestasi; implementasi Six Sigma sangat semarak,
banyak proyek dengan penghematan disana-sini, banyak juga
Black Belt yang telah disertifikasi.
Namun
dalam jangka panjang, CEO akan melihat bahwa tidak ada korelasi
positif antara jumlah training, proyek dan cerified Black
Belt dengan kinerja finansial dalam 5 tahun terakhir, misalnya.
Bahkan produk dan jasa perusahaan kita jauh tertinggal dari
pesaing-pesaing. Disinilah bahayanya jika terlalu berfokus
pada training dan sertifikasi. CEO akan kehilangan kepercayaan
dan mulai mencari pengganti metode yang lebih berhasil.
Karyawan juga menjadi skeptis karena Six Sigma cukup digunakan
untuk mendapat sertifikat saja dan tak ada nilai tambah
lain yang nyata. Jika hal ini terjadi, maka kerugian akan
ditanggung semua pihak karena kita mengorbankan sebuah metode
yang bagus hanya karena kita tidak tepat melaksanakannya.
Kesimpulan
Inti
dari tulisan panjang ini adalah bahwa Six Sigma sebagai
konsep telah diakui keunggulannya oleh banyak pihak. Namun
dalam implementasi sering terjadi persepsi yang keliru;
utamanya adalah melupakan tujuan utama penerapan Six Sigma
sebagai pendukung bisnis untuk mendapatkan analisis yang
tepat dan cepat.
Dengan
segala kelengkapan metodologi dan statistical tools yang
terkandung dalam Six Sigma,tetap perlu diingat bahwa pada
prinsipnya metode ini adalah sebuah "kerangka berpikir
untuk membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik
dan lebih cepat berdasarkan pengetahuan yang diambil dengan
analisis data dan fakta secara tepat yang dipadu dengan
berpikir kritis." Definisi ini diingatkan oleh Mark
Kiemele dari Air Academy Associates, untuk mengingatkan
kita bahwa selama filosofi itu kita pegang, maka Six Sigma
akan tetap menjadi metode yang bermanfaat untuk menjawab
tantangan bisnis.
Dalam
retrospeksi, ini adalah tantangan kita bersama para praktisi
di bidang Quality untuk tetap bisa memberikan kontribusi
dalam pekerjaan kita.
Referensi
Goodman,
John, and Jon Theuerkauf. "What's Wrong With Six Sigma?"
Quality Progress January 2005: p.37-42.
Kiemele, Mark. "The Dumbing Down of Six Sigma."
Quality Digest July 2004: p.72
Kihn,
Martin . "Six Sigma Stigma." Accesseed from http://www.fastcompany.com/magazine/98/debunk.html.