beranda.net logo

beranda > faktor-Q > menentukan peran dalam team


Menentukan Peran (Role) dalam Team

D. Manggala (27 Mei, 2004)

Buat sebagian orang (seperti saya), kerja dalam team sering menjadi sesuatu yang cukup sulit dalam pekerjaan. Sering sekali timbul kesulitan antar sesama anggota team, mulai dari soal 'selera', waktu kerja, cara pengambilan keputusan maupun kecepatan kerja. Hal ini menjadi sesuatu yang penting untuk dipikirkan karena quality improvement adalah pasti suatu team process; hampir tidak mungkin melakukan perbaikan quality sebagai single fighter terutama karena proses ini selalu menyangkut pendekatan kultur dan proses yang menyeluruh.

Kegagalan implementasi proses seperti TQM (Total Quality Management) hampir semuanya berkaitan dengan gagalnya team yang berkaitan dalam mengeksekusi program tersebut. Bahkan, seringkali team yang gagal tersebut adalah team yang terdiri dari orang-orang paling brilian di suatu perusahaan atau organisasi. Hal ini menurut Dr. R. Meredith Belbin dari Cambridge University adalah karena yang paling vital dari kesuksesan kerjasama team adalah pembagian role/peran di dalamnya. Mengumpulkan orang-orang pintar dalam satu team belum tentu berhasil atau lebih baik dari kumpulan dari kombinasi orang yang brilian dan mediocre.

Berdasarkan penelitian selama sembilan tahun di ICI, sebuah perusahaan kimia di Inggris, Dr. Belbin menyarankan untuk selalu memasukkan kombinasi beberapa role dalam satu team. Role ini adalah berdasarkan sebagian besar sifat-sifat pribadi dari anggota team selain pengalaman dan kemampuan teknisnya. Dengan memilih orang-orang yang tepat sesuai role yang diinginkan dalam team, setiap anggota akan saling isi-mengisi kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Secara singkat, beberapa role yang ditemukan oleh Dr. Belbin dapat dideskripsikan sebagai berikut:

Role

 

Kontribusi
 
Kelemahan
Plant

Kreatif, imajinatif, tidak ortodoks dan mampu menyelesaikan masalah yang rumit.

 

  Sering mengabaikan details dan sering terlalu berusaha untuk menyampaikan sesuatu secara efektif.
Resource Investigator

Ekstrovert, antusias, komunikatif, rajin mencari peluang baru, dan punya banyak kontak.

 

  Seringkali terlalu optimis, dan juga sering kehilangan energi setelah minatnya pada suatu hal berkurang.
Coordinator

Matang, percaya diri, bisa menjadi ketua atau koordinator yang handal. Mampu merumuskan tujuan dan pengambilan keputusan serta efektif dalam mendistribusikan pekerjaan.

 

  Sering dipandang sebagai sosok yang suka memanipulasi bawahan atau member, terutama coordinator yang suka mendelegasikan pekerjaan pribadinya kepada orang lain.
Shaper

Suka tantangan, dinamis, menyukai tekanan dalam bekerja. Punya dorongan dan keberanian untuk mengatasi masalah pelik.

 

  Sering memprovokasi rekan kerja dan potential menyakiti hati rekan kerja yang lain.
Monitor Evaluator

Tenang, strategik, dan penuh perhitungan. Selalu mempertimbangkan semua sisi dalam suatu masalah, sehingga dapat mengambil keputusan dengan akurat.

 

  Kurang punya dorongan dan kemampuan untuk memberikan inspirasi pada orang lain. Juga seringkali terlalu kritis.
Team Worker

Suka bekerja sama, santai, dan diplomatis. Bisa mendengarkan, mampu mengurangi friksi dan menenangkan situasi.

 

  Kurang bisa mengambil keputusan dalam situasi yang mendesak, serta gampang terpengaruh orang lain.
Implementer

Disiplin, handal, konservatif, dan efisien. Mampu mengimplementasikan ide ke dalam tindakan.

 

  Kurang fleksibel; sangat lambat untuk menerima cara atau alternatif baru.
Completer Finisher

Hati-hati, bekerja dengan teliti. Selalu berusaha menghilangkan segala bentuk errors sampai sekecil-kecilnya dan berusaha selesai tepat waktu.

 

  Susah untuk mendelegasikan pekerjaan dan sering memilih-milih.
Specialist
Single-minded, mandiri, dan berdedikasi. Mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang jarang dimiliki member yang lain.   Kontribusinya hanya bagian kecil yang ia tahu, suka berlama-lama di detail yang terlampau teknis dan suka mengabaikan "the big picture"

Jadi, suatu team mesti mempunyai kombinasi berbagai macam role didalamnya agar terjadi sinergi menuju sukses. Beberapa orang kemungkinan bisa memainkan beberapa role sekaligus tapi kebanyakan orang hanya mempunyai karakter yang cocok hanya pada satu role tertentu.

Yang penting (dan juga paling susah adalah) bagaimana menyeleksi dan mengkombinasikan karakter dari human resource yang tersedia agar team kita memiliki kombinasi yang paling tepat. Dalam dunia nyata, masalah birokrasi dan administrasi kemungkinan akan menjadi ganjalan besar dalam menerapkan hal ini. Seringkali yang terjadi adalah team dibentuk berdasarkan siapa yang sedang ada/available, bukan berdasarkan kebutuhan.

Tapi bagaimanapun, tidak ada salahnya untuk selalu mencoba bukan?

Referensi

George, Michael L. "Lean Six Sigma." Madison: McGraw-Hill, 2002: p. 159-160