beranda.net logo

beranda > faktor-Q > menggunakan konsep 5S dalam mengelola sharefolder

 

Menggunakan Konsep 5S dalam Mengelola Sharefolder

D. Manggala (27 September, 2005)

Membicarakan konsep Lean, hampir selalu identik dengan dunia manufaktur atau pabrik. Mengurangi inventory, mengurangi waktu tunggu (waiting time), mengurangi gerak (motion) atau transportasi adalah topik-topik yang berkaitan dengan konsep Lean. Bagaimana dengan proses admisnitratif? Bisakah kita menggunakan konsep Lean tersebut untuk mempercepat atau memperbaiki proses di tempat kerja kita?

Dari berbagai obrolan dengan teman-teman di kantor serta pengalaman di tempat kerja, ternyata konsep Lean bisa kita gunakan untuk memperbaiki proses-proses sederhana di tempat kerja kita; walaupun sederhana, namun apabila itu dibudayakan, maka kantor kita bisa menjadi tempat kerja yang terorganisir. Salah satu contoh sederhananya adalah mengimplementasikan konsep 5S untuk mengelola sharefolder di tim kerja kita.

Dalam dunia yang semakin banyak menggunakan komputer dan jaringan (network) dalam pekerjaan, pengelolaan sharefolder memegang perranan yang sangat penting. Sesuai namanya, sharefolder merupakan folder tempat menyimpan file yang bisa diakses oleh beberapa orang dari departemen yang sama (atau anggota departemen lain yang mendapat otoritas untuk mengakses file-file yang disimpan didalamnya). Tujuannya tentu saja agar sesama pegawai bisa saling berbagi informasi tentang pekerjaan/proyek yang sedang dikerjakan oleh masing-masing anggota maupun untuk menyimpan data yang bersifat umum seperti budget departemen maupun jadwal cuti dari anggota departemen tersebut. Secara praktis, pengelolaan sharefolder sangat membantu kelancaran pekerjaan sehari-hari; misalnya bila salah satu pegawai sedang tidak masuk kerja, anggota yang lain bisa dengan gampang mengakses file teman yang tidak masuk tadi. Secara strategis, pengelolaan sharefolder adalah salah satu dasar untuk membangun manajemen yang berdasarkan pengetahuan (Knowledge Based Management) yaitu suatu proses dibangun dan dikelola berdasarkan sistem dan pengetahuan kolektif, dan bukan tergantung pada pengetahuan individu.

Namun dalam kenyataannya apakah yang terjadi? Sharefolder sering tidak dikelola dengan baik yang mengakibatkan folder itu menjadi gudang yang tak terawat sehingga susah mencari file yang diperlukan.

Misalnya, sering terjadi pembuatan folder dengan nama dan kategori yang suka-suka dan bermacam-macam. Ada yang menyimpan filenya dalam folder utama, ada yang membuat folder berdasarkan nama orang yang menciptakan file (misalnya Budi atau Noni), ada yang membuat folder berdasarkan nama proyek (misalnya Trident Project, atau Financial Project), ada juga yang membuat folder berdasarkan tahun (misalnya Budget 2004). Selain itu, sering sekali terjadi pembuatan nama berdasarkan kepentingan spesifik (misalnya diberi nama folder Mp3 untuk menyimpan lagu, folder Cuti untuk menyimpan informasi jadwal cuti.

Bayangkan jika jumlah file dan folder yang disimpan banyak sekali, maka akan susah sekali menyimpan dan mencari file yang kita perlukan. Persis seperti gudang yang hanya dijejali berbagai macam barang tanpa pengaturan yang jelas.

Bayangkan juga berapa lama yang diperlukan untuk mencari file yang kita perlukan, dan berapa lama suatu aktivitas harus menunggu hanya karena kita menghabiskan waktu mencari-cari file.

Bagaimana dengan dari segi inventory? IT Department sering mengeluhkan besarnya ukuran yang diperlukan oleh sharefolder yang sering membuat network menjadi berat dan lambat. Tentu saja akan terjadi demikian, sharefolder sering menyimpan file-file yang sudah kadaluwarsa dalam ukuran luar biasa besar, baik itu proyek-proyek lebih dari 5 tahun silam, foto-foto, lagu-lagu/MP3, dan sebagainya.

Mungkin banyak diantara para pembaca yang familiar dengan situasi diatas? Bagaimana kita menggunakan konsep Lean sederhana untuk memperbaiki situasi diatas?

Disinilah kita bisa memanfaatkan konsep pengorganisasian tempat kerja yang dikenal dengan nama 5S. Berasal dari bahasa Jepang yakni Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke. Untuk lebih gampangnya, bisa juga digunakan dalam bahasa Inggris: Sort, Set in Order, Shine, Standardize, dan Sustain. Bagaimana 5S ini digunakan dalam memperbaiki sharefolder diatas?

1

5S

1. Sort:

Tandai dan kumpulkan file-file yang sudah kadaluwarsa, sudah tidak ada yang menyentuh dalam 3 bulan terakhir. Simpan dalam satu folder yang bisa diberi nama Archive atau Red Tag. Juga kumpulkan disini file-file yang berukuran besar namun sedikit gunanya buat pekerjaan kita sekarang(seperti foto tamasya di tahun 2001, lagu-lagu, serta folder-folder yang dibuat tahun 2004 dan sebelumnya). Folder ini adalah kandidat untuk dihapus untuk membersihkan sharefolder kita dari file-file tak berguna (Bisa juga dibuatkan back up-nya ke dalam CD/DVD sebelum dihapus dari network kita).

2. Set-in-Order:

Setelah file-file yang tidak berguna kita kumpulkan dalam satu folder (untuk kandidat dihapus), kemudian file-file dan folder-folder yang sering kita perlukan kita susun dalam folder-folder yang kita standarkan. Misalnya saja kita buat folder standar utama dengan kategori Personnel (untuk menyimpan file-file pribadi), Project (untuk menyimpan file proyek),Team (untuk menyimpan informai yang bersifat kolektif seperti budget dan jadwal cuti), serta file Archive (untuk menyimpan file-file lama yang bisa dihapus).

3. Shine:

Nah, sekali lagi bersihkan file-file dan folder agar semakin rapi dan bersih dari file-file lama. Juga saatnya mendelete file-file dalam Archives yang benar-benar sudah kadaluwarsa.

4. Standardize:

Bakukan proses diatas dan buatkan dokumentasi serta informasi yang lengkap mengenai standarnya. Informasikan kepada setiap anggota departemen agar semua mengerti dan menjalankannya.

5. Sustain:

Bagian terberat adalah menjalankan dan memelihara proses standar diatas. Apabila tidak kita pelihara secara konsisten, maka sharefolder kita lambat laun akan kembali menjadi keranjang sampah virtual raksasa. Oleh karena itu, pimpinan departemen harus disiplin dan konsisten menjaga standar yang sudah dibuat diatas.

 

Mungkin akan ada yang bertanya, manfaat apa yang bisa kita dapat dari aktivitas yang sederhana ini? Apa ada manfaatnya buat bisnis perusahaan?

Saya sendiri percaya bahwa hal-hal kecil diatas jika kita budayakan sebagai kebiasaan dan dijalankan dengan konsisten, maka lambat laun apa yang kita sebut Knowledge Based Management akan bisa diwujudkan. Dengan hanya melaksanakan hal diatas, kita bisa menghemat waktu untuk mencari-cari file, kita bisa mengakses file yang disimpan rekan kita yang sedang tidak masuk kantor dan meneruskan proyek tanpa harus menunggu, kita bisa mengurangi beberapa mouseclick dalam mencari file, dan kita bisa menghemat beberapa megabyte dari server perusahaan kita. Jika kita terapkan di semua departemen, penghematan yang kecil-kecil ini akan menjadi sangat besar!