beranda.net logo

beranda > faktor-Q > apa itu six sigma?

Catatan Sebelum Membaca:
Tulisan ini adalah sebuah penyederhanaan dari konsep Six Sigma, atau bisa dianggap sebagai Six Sigma in a nutshell.

Apa itu Six Sigma?

Oleh: D. Manggala (22 Nopember 2003)

What’s in a name? That which we call a rose
By any other word would smell as sweet

- William Shakespeare (Romeo and Juliet, II, ii, 1-2) -

 

Definisi

Apa sih Six Sigma itu?
Dari kata per kata istilah ini terdiri dari:
Six yang artinya enam
Sigma yang merupakan simbul dari standar deviasi..

Untuk sampai ke arti six sigma, kita perlu tengok sejarahnya sedikit. Six Sigma dimulai oleh Motorola ditahun 1980-an oleh salah seorang engineer disana bernama Bill Smith serta didukung penuh oleh CEO Bob Galvin. Motorola menggunakan statistics tools diramu dengan ilmu manajemen yang; kemudian sebagai metrics, Motorola menggunakan financial metrics (yaitu Return on Investment, ROI) yang merupakan salah satu terobosan dibidang quality.

Dari latar belakang itu, Six Sigma dapat diartikan sebagai sebuah metodologi terstruktur untuk memperbaiki proses yang difokuskan pada usaha mengurangi variasi pada proses (process variances) sekaligus mengurangi cacat (produk/servis yang diluar spesifikasi) dengan menggunakan statistik dan problem solving tools secara intensif.

Secara harfiah, six sigma (6s) adalah suatu besaran yang (secara sederhana) bisa kita terjemahkan secara gampang sebagai sebuah proses yang memiliki kemungkinan cacat (defects) sebanyak 3.4 buah dalam satu juta produk/jasa. Konsep ini adalah turunan dari konsep Process Capability. Intinya, Six Sigma adalah sebuah referensi untuk mencapai suatu keadaan yang nyaris bebas cacat.

Menurut Peter Pande,dkk, dalam bukunya The Six Sigma Way: Team Fieldbook, ada enam komponen utama konsep Six Sigma :
1. Benar-benar mengutamakan pelanggan: seperti kita sadari bersama, pelanggan bukan hanya berarti pembeli, tapi bisa juga berarti rekan kerja kita, team yang menerima hasil kerja kita, pemerintah, masyarakat umum pengguna jasa, dll.
2. Manajemen yang berdasarkan data dan fakta: bukan berdasarkan opini, atau pendapat tanpa dasar.
3. Fokus pada proses, manajemen dan perbaikan: Six Sigma sangat tergantung kemampuan kita mengerti proses yang dipadu dengan manajemen yang bagus untuk melakukan perbaikan.
4. Manajemen yang proaktif.
5. Kolaborasi tanpa batas: kerja sama antar tim/departemen yang sangat mulus.
6. Selalu mengejar kesempurnaan, tapi masih toleran pada kesalahan (kecil).

Dalam perjalanan waktu, General Electric(GE)-lah yang akhirnya mempopulerkan Six Sigma sebagai suatu trend dan membuat perusahaan lain serta orang-orang berlomba-lomba mencari tahu apa itu Six Sigma serta mencoba mengimplementasikannya di tempat kerja masing-masing. Dalam hal ini, peran CEO (waktu itu) Jack Welch boleh dibilang sangat penting mengingat dia orang yang menjadikan Six Sigma sebagai tulang punggung semua proses di GE, yang akhirnya menjadikan dia sebagai salah satu celebrity CEO.

Kalau demikian, berarti konsep Six Sigma ditemukan oleh Motorola?
Jawabannya: TIDAK.


Konsep dasar Six Sigma banyak sekali diambil dari Total Quality Management (TQM) dan Statistical Process Control (SPC) dimana dua konsep besar ini diawali oleh pemikiran-pemikiran Shewhart, Juran, Deming, Crossby dan Ishikawa. Dari segi waktu, bisa dikatakan Six Sigma adalah hasil evolusi terakhir dari quality improvement yang berkembang sejak tahun 1940-an.

Hal inilah yang sering menjadi cibiran para pakar statistik atau quality experts, karena menganggap Six Sigma hanyalah konsep usang yang diganti bungkusnya dan dijual lagi (kebetulan laku keras), serta banyak orang (dari manager sampai pegawai biasa) yang melihatnya sebagai trend sesaat, fad atau flavor of the month.

Banyak yang mengatakan bahwa Six Sigma adalah TQM yang lebih praktis, ada juga yang mengatakan SPC dikombinasikan dengan financial metrics; tapi bagi kita (setidaknya saya)..apapun namanya entah itu Six Sigma, TQM, SPC, dll…yang pentingadalah: ternyata konsep ini jika dilaksanakan dengan disiplin dan konsisten bisa menghasilkan kemajuan yang cukup nyata!

Fondasi Six Sigma: DMAIC, Black Belt, dan Tim Pelaksana

Seperti disebutkan sebelumnya, Six Sigma adalah suatu metode yang sangat terstruktur. Nah, strukturnya terdiri dari lima tahapan: Define, Measure, Analyze, Improve, Control (DMAIC)

Selain itu kesuksesan implementasi Six Sigma ditentukan oleh kehadiran seorang (atau lebih) fasilitator yang memahami manajemen dan penggunaan statistik; fasilitator ini (biar gaya) diberi gelar Black Belt.

Namun yang terpenting di atas semua itu adalah team pelaksana, yang sebaiknya terdiri dari anggota yang berasal dari berbagai tim/departemen yang saling terkait (cross-functional team).

Setiap tahap, mempunyai bagian-bagian yang mesti dilaksanakan ataupun mempunyai jenis-jenis konsep statistik yang bisa dipakai, walaupun sebenarnya untuk penggunaan statistik bisa cukup fleksibel.

Define: pada tahap ini team pelaksana mengidentifikasikan permasalahan, mendefiniskan spesifikasi pelanggan, dan menentukan tujuan (pengurangan cacat/biaya dan target waktu).

Measure: tahap untuk memvalidasi permasalahan, mengukur/menganalisi permasalahan dari data yang ada.

Analyze: menentukan faktor-faktor yang paling mempengaruhi proses (significant few opportunities), artinya mencari satu atau dua faktor yang kalau itu diperbaiki akan memperbaiki proses kita dramatis.

Improve: nah, di tahap ini kita mendiskusikan ide-ide untuk memperbaiki sistem kita berdasarkan hasil analisa terdahulu,melakukan percobaan untuk melihat hasilnya, jika bagus lalu dibuatkan prosedur bakunya (standard operating procedure-SOP).

Control: di tahap ini kita harus membuat rencana dan desain pengukuran agar hasil yang sudah bagus dari perbaikan tim kita bisa berkesinambungan. Jadi SOP ini dibuatkan semacam metrics untuk selalu dimonitor dan dikoreksi bila sudah mulaimenurun ataupun kalau ada perbaikan lagi.

Kontroversi

Seperti disebutkan sebelumnya, Six Sigma cukup mengundang kontroversi terutama dikalangan praktisi dibidang quality. Pada satu sisi, banyak yang menganggap Six Sigma sebagai suatu hal yang luar biasa hebat, simpel tapi powerful. Dianggap sebagai suatu perbaikan dari TQM yang lumayan gagal diimplementasikan. Banyak konsultan berlomba-lomba mencantumkan Six Sigma sebagai salah satu jasa mereka ditambah buku-buku yang berlomba-lomba masuk ke pasaran.

Di sisi yang berseberangan banyak praktisi yang skeptis dengan Six Sigma: berpendapat tidak ada yang spesial (hanya lain nama dari TQM), hanya merupakan flavor of the month, overrated karena gencarnya liputan dari media massa dan yang paling serius adalah mengenai kesalahan asumsi metrics Six`Sigma. Salah satu artikel yang cukup menggambarkan sisi yang berseberangan ini ditulis oleh seorang pakar dibidang quality bernama Arthur Schneiderman dalam artikel yang berjudul “Question: When is Six Sigma not Six Sigma? Answer: When It’s the Six Sigma Metric!!”. Artikel ini bisa dilihat di artikel sebelumnya. Artikel lain yang cukup berimbang berjudul “What’s Wrong With Six Sigma?“ ditulis oleh John Goodman & Jon Theuerkauf di majalah Quality Progress (terbitan American Society for Quality) edisi January 2005. Artikel ini bisa dicari di internet dengan Google (www.google.com) ataupun mesin pencari lainnya.

Sekali lagi, diluar kontroversi itu, yang penting adalah bahwa kita menggunakan konsep/metode ini, apapun namanya, dalam pekerjaan kita. Hasilnya bisa sangat luar biasa, jika kita disiplin dan konsisten.

Daftar Referensi

Pande, Peter S., Neuman Robert P, dan Roland R. Cavanagh. The Six Sigma Way: Team Fieldbook, An Implementation Guide for Process Improvement Teams. McGraw-Hill, 2002.

Schmidt, Stephen R., Kiemele, Mark J., and Ronald J. Berdine. Knowledge Based Management: Unleashing the Power of Quality Improvement. Colorado Springs: Air Academy Press & Ass, 1999.

Schmidt, Stephen R., Kiemele, Mark J., and Ronald J. Berdine. Basic Statistics: Tools for Continuos Improvement 4th ed. Colorado Springs: Air Academy Press & Ass, 1994.