beranda.net logo

beranda > faktor-Q > tantangan dalam implementasi six sigma

 

Tantangan dalam Implementasi Six Sigma


Oleh: D. Manggala (19 Maret 2004)

Mungkin banyak diantara kita yang bertanya-tanya, kalau Six Sigma sangatlah bermanfaat dan sudah berhasil membuat berbagai perusahaan menjadi sangat kompetitif, mengapa tidak semua perusahaan berusaha keras menerapkannya?

Nah, itulah tantangan dalam implementasi Six Sigma.

Banyak orang yang mengira, tantangan utama dalam menerapkan Six Sigma adalah biaya training yang sangat besar ataupun kemampuan karyawan yang tidak memadai untuk memahami konsep-konsep statistik dan analitis. Ada juga yang berpendapat bahwa ketidakberhasilan penerapan Six Sigma adalah karena tidak menggunakan software yang tepat.

Namun dari pengamatan saya serta diskusi dengan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia process improvement ini, keberhasilan implementasi Six Sigma sangat ditentukan oleh komitmen manajemen dalam memperbaiki proses di perusahaannya. Selain komitmen secara simbolis (seperti CEO hadir pada setiap pembukaan training Black Belt atau mensyaratkan penggunaan analisis statistik dalam semua analisis data termasuk data-data keuangan), komitmen yang lebih penting adalah dalam menyusun struktur organisasi perusahaan yang tepat untuk mendukung strategi dalam memilih proyek yang tepat dan orang/tim yang kompeten.

1. Menentukan proyek yang tepat
Memilih proyek atau proses yang tepat untuk diperbaiki disini maksudnya adalah bagaimana kita memilih proses/proyek yang benar-benar akan memberikan hasil yang sangat penting buat keseluruhan kinerja perusahaan kita. Seringkali sebuah perusahaan mempunyai banyak sekali proses yang ingin diperbaiki sehingga timbul 'godaan' untuk memperbaiki semua dalam satu periode; pendekatan yang tepat adalah apabila manajemen bisa memilih 20% dari semua proses yang bermasalah yang akan berimpak terhadap 80% dari kinerja/keuangan perusahaan (sesuai prinsip Pareto). Apabila proyek sudah dipilih dengan baik, maka selanjutnya perlu dipilih orang-orang yang paling cemerlang di perusahaan untuk memimpinnya.

2. Mengelola tim lintas-fungsi (cross-functional team)
Suatu usaha memperbaiki proses biasanya memerlukan tim yang terdiri dari wakil beberapa departemen/bagian yang berkaitan untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Peranan seorang Black Belt dalam memimpin team lintas-fungsi adalah sangat penting. Seorang Black Belt sebaiknya ditunjuk oleh manajemen untuk memimpin proyek yang telah dipilih dengan baik. Bagaimanapun kemampuan dalam memimpin organisasi (termasuk misalnya memimpin rapat yang efektif) sangatlah penting selain pemahaman akan metode DMAIC dan pengetahuan aplikasi statistik. Oleh karena itu sangatlah vital disini peranan manajemen dalam memilih seorang calon Black Belt termasuk menentukan jalur karir yang tepat untuk mereka (termasuk kompensasi yang menarik).

Komitmen manajemen yang ekstra kuat sangat diperlukan karena setiap usaha perbaikan proses melibatkan suatu perubahan, baik besar ataupun kecil; jadi change management sangat erat kaitannya dengan Six Sigma. Tanpa strategi yang bagus dalam mengelola perubahan, karyawan mungkin akan jadi skeptis atau malah menolak setiap usaha perbaikan.

Untuk Black Belt yang menjadi pemimpin suatu usaha perbaikan, perlu ditekankan untuk tidak meremehkan hal-hal kecil di lapangan. Black Belt sering kesulitan dalam melakukan implementasi Six Sigma, kenapa? Bukan karena ia tidak punya kemampuan statistik atau kurang memahami DMAIC, tapi justru karena ia tidak mendapatkan data yang diperlukan! Bisa karena data memang tidak ada atau bisa juga karena tidak mendapat dukungan dari tim yang seharusnya menyediakan data tersebut. Selain itu, diberbagai perusahaan, masalah kalibrasi alat ukur adalah salah satu batu besar yang menghalangi implementasi Six Sigma mengingat hal itu bukan hanya memerlukan biaya besar tapi juga perlu waktu lama untuk menyelesaikan persoalannya.

Terakhir sebagai tambahan, menurut Rath&Strong dalam buku kecilnya, tantangan terbesar dalam implementasi juga timbul dari hal-hal “kecil” seperti, bagaimana kita (Black Belt) bisa:

- Membuat semua anggota team selalu hadir dalam tiap pertemuan
- Membuat team tetap fokus dan tetap semangat
- Mendapatkan dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak yang berkaitan
- Meyakinkan pemilik proses untuk menyetujui perubahan

Daftar Referensi

Federico, Mary, and Renee Beaty. Rath & Strong’s Six Sigma Team Pocket Guide. McGraw-Hill, 2004.